Selasa, 15 Maret 2011

KETERAMPILAN BERTANYA

1) Pengertian
Ketrampiln bertanya menurut marno (2008 : 115) adalah suatu pengajaran itu sendiri, sebab pada umumnya guru dalam pegajaranya selalu melibatkan/menggunakan tanya jawab. Ketrampilan bertanya merupakan keterampilan yang digunakan untuk mendapatkan jawaban/balikan dari orang lain. Hampir seluruh proses evaluasi, pengukuran, penilaian, dan pengujian dilakukan melalui pertanyaan.

Menurut Brown bertanya adalah setiap pernyataan yang mengkaji atau menciptakan ilmu pada diri peserta didik. Cara untuk mengajukan pertanyaan yang berpengaruh positif bagi kegiatan belajar peserta didik merupakan suatu hal yang tidak mudah. Oleh sebab itu, sebagai pendidik kita hendaknya berusaha agar memahami dan menguasai penggunaan keterampilan dasar mengajar bertanya.

Keterampilan dasar mengajar bertanya dapat kita kelompokkan menjadi dua tingkatan, yaitu keterampilan dasar mengajar bertanya tingkat dasar dan keterampilan dasar mengajar tingkat lanjut. Keterampilan dasar mengajar bertanya tingkat dasar mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan. Sementara itu, keterampilan dasar mengajar dasar bertanya tingkat lanjut merupakan lanjutan dari keterampilan dasar mengajar bertanya tingkat dasar, dan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik, memperbesar partisipasi mereka dan mendorong mereka agar dapat mengambil inisiatif sendiri.

2) Tujuan Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya perlu kita pelajari sebagai pendidik sebab ada banyak tujuan kita mempunyai jenis keterampilan ini, yaitu:
a) Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik terhadap suatu masalah yang sedang dibicarakan. Dengan memberikan pertanyaan kita akan dapat menarik minat peserta didik dalam perkuliahan. Terlebih jika pertanyaan yang kita berikan tidak sembarangan, alias memerlukan pemikiran dan renungan mendalam karena cukup pelik dan tidak dapat dilihat secara hitam putih. Untuk memancing rasa ingin tahu peserta didik kita perlu memilih pertanyaan terkait dengan isu-isu baru yang lagi in dan sesuai dengan dunia peserta didik.

b) Memusatkan perhatian siswa pada suatu masalah yang sedang dibahas.
Dengan bertanya kita dapat menarik perhatian siswa terhadap satu persoalan. Kita dapat mempersiapkan berbagai jenis pertayaan yang relevan dengan topic perkuliahan yang kita sampaikan. Ada trik tertentu agar semua peserta didik fokus ke pertanyaan. Sebagai contoh, di tengah kita sedang menjelaskan topik secara tiba-tiba kita lemparkan sebuah gulungan kertas yang sudah kita siapkan kepada salah seorang peserta didik yang kita anggap kurang memperhatikan. Peserta didik yang kita lempar itu langsung kita berikan pertanyaan terkait dengan topic. Biasanya peserta didik lainnya akan diam dan semua focus ke kejadian ini dan juga ke pertanyaan yang kita ajukan. Ini sebagai bagian dari shock therapy. Pada pertemuan berikutnya biasanya sudah berkurang orang yang tidak memperhatikan perkuliahan.


c) Mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat peserta didik dalam belajar. Dengan melontarkan pertanyaan kita akan mengetahui sejauhmana pemahaman peserta didik tentang topic perkuliahan. Jika sudah paham, kita dapat meneruskan topik perkuliaha berikutnya, namun jika belum paham kita dapat mengulangi pembahasan atau mendiskusikan lebih jauh, atau mengulangi lagi pada pertemuan berikutnya. Selain itu, jika peserta didik belum paham terhadap materi perkuliaha kita dapat segera mengidentifikasi berbagai penyebabnya sehingga akan kita tawarkan solusinya.
d) Mengembangkan cara belajar siswa aktif. Bertanya pada dasarnya ada proses memahami yang pro aktif. Bertanya berarti memahami sebagian materi. Bertanya dapat melatih peserta didik aktif mencari ilmu pengetahuan.

e) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi. Dengan kita memberikan pertanyaan sebenarnya menuntut peserta didik merenungkan kembali informasi dan pengetahuan yang telah diperoleh. Dengan pertanyaan kita dapat melatih peserta didik melakukan proses seleksi pengethuan untuk menjawab persoalan yang kita ajukan.


f) Mendorong siswa mengemukakan pendapat dalam diskusi. Dengan kita berikan pertanyaan kepada seluruh anak, mereka dibiasakan mengemukakan pendapat di muka umum. Di samping itu, jika terjadi perbedaan pandangan mereka akan dilatih menghargai pandangan orang lain.

g) Menguji dan mengukur hasil belajar. Tujuan terakhir dari keterampilan bertanya adalah untuk menguji dan mengukir hasil belajar. Ini berarti kegiatan bertanya dikaitkan dengan tujuan pembelajaran apakah sudah tercapai ataukah belum.

3) Komponen Keterampilan Bertanya
Seperti komponen-komponen sebelumnya, keterampilan dasar mengajar bertanya juga memiliki beberapa komponen. Hanya saja, komponen tersebut tergantung pada tingkatannya, yaitu antara tingkat dasar dan tingkat lanjut.
1) Keterampilan dasar mengajar bertanya tingkat dasar
b. Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat
Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh peserta didik sesuai dengan taraf perkembangannya. Tingkatan ini jarang digunakan pada peserta didik kecuali unutk beberapa disiplin ilmu yang memang masih baru atau masih asing sehingga pertanyaan yang diberikan masih bersifat dasar. Contoh: apakah perbedaan antara model pendidikan pedagogi dengan andragogi?

c. Pemberian acuan
Sebelum memberikan pertanyaan, kadang-kadang kita perlu memberikan acuan berupa pernyataan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari peserta didik. Contoh: Kita ketahui bersama bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat banyak komponen. Coba kamu sebutkan apa saja kompnen yang terdapat dalam pendidikan tersebut!

d. Pemindahan giliran
Adakalanya satu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari seorang peserta didik, karena jawaban yang diberikan belum benar atau belum memadai. Untuk itu kita dapat menggunakan teknik pemindahan giliran. Mula-mula kita mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, kemudian memilih salah seorang peserta didik untuk menjawab, dengan cara menyebut namanya, atau dengan menunjuk salah seorang dari mereka.
Contoh: Kita mengajukan pertanyaan berikut kepada seluruh kelas: ”Pola pemikiran umat Islam Indonesia secara genealogis tidak terlepas dari sejarah masuknya Islam ke wilayah Nusantara. Coba kamu sebutkan jalur-jalur penyebaran Islam ke Nusantara beserta implikasi pemikiran yang ditimbulkan!” Sangat mungkin jawaban yang muncul pertama kali baru satu perspektif, maka kita dapat menawarkan kembali kepada peserta didik lain tentang pertanyaan yang kita ajukan tersebut.
e. Penyebaran
Untuk melibatkan peserta didik sebanyak-banyaknya di dalam pelajaran, kita perlu menyebarkan giliran untuk menjawab pertanyaan secara acak. Kita hendaknya berusaha melontarkan pertanyaan ke semua peserta didik agar semua mendapat giliran yang sama.
f. Pemberian waktu berpikir
Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelaas, kita perlu memberi waktu beberapa saat untuk berpikir sebelum menunjuk salah seorang seorang peserta didik untuk menjawabnya.
g. Pemberian tuntunan
Bila seorang peserta didik memberikan jawaban yang kurang rasional atau kurang tepat, kita hendaknya memberikan beberapa batasan atau catatan kepada peserta didik itu, agar ia dapat menemukan sendiri jawaban yang benar baik dengan mendiskusikan bersama sesame teman atau melalui penelusuran di perpustakaan.

2) Komponen-komponen keterampilan dasar mengajar bertanya tingkat lanjut
a. Pengubahan tuntunan tingkat kognisi dalam menjawab pertanyaan. Pertanyaan yang kita kemukakan dapat mengandung proses mental yang rendah sampai proses mental yang tinggi. Oleh karena itu, dalam mengajukan pertanyaan, kita hendaknya berusaha mempertimbangkan tuntutan tingkat kognisi dalam menjawab pertanyaan dari tingkat yan paling rendah, yaitu: evaluasi ingatan, pemahaman penerapan, analisis, sintesis dan aplikasi. Tentu kita harus membedakan level berpikir yang hanya mengetahui dengan yang level menganalisis.
b. Pengaturan urutan pertanyaan. Untuk mengembangkan tingkat kognisi dari yang sifatnya lebih rendah ke yang lebih tinggi dan kompleks, kita hendaknya dapat mengatur urutan pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik. Misalnya, pertama-tama kita mengaajukan pertanyaan yang bersifat ingatan, setelah itu pertanyaan kita naikkan ke pemahaman, penerapan, analisis, dan akhirnya evaluasi.
c. Penggunaan pertanyaan pelacak
Jika jawaban yang diberikan peserta didik kita nilai benar, tetapi masih dapat ditingkatkan menjadi labih sempurna, maka kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pelacak kepada mereka. Misalnya dengan ungkapan, “Menurut Saudara, kira-kira yang menjadi penyebab apa ya?” atau “Coba kalau dikaitkan dengan konteks keindonesiaan, apa dampak pemikiran tokoh Muhammad Abduh tersebut?” dan seterusnya.
d. Peningkatan terjadinya interaksi
Agar peserta didik lebih terlihat secara keseluruhan, jawaban yang mungkin belum sempurna diberikan oleh salah seorang siswa tidak harus langsung kita jawab, namun kita lontarkan kembali ke semua orang agar memberikan komentar atau jawaban. Kalau bisa hindari menjadi tenaga pendidik otoriter yang hanya mau menang sendiri dalam berpendapat tanpa melibatkan peserta didik. Apalagi untuk konteks peserta didik sudah mampu berpikir mandiri. Yang kita perlukan hanya kisi-kisi atau poin-poin pokok saja.


5) Prinsip Keterampilan Bertanya
Kalau kita ingin mempunyai keterampilan bertanya yang baik kita dapat mencermati prinsip-prinsip penggunaan keterampilan bertanya berikut ini.
1. Kehangatan dan antusias
Kita perlu menunjukkan kepada seluruh peserta didik bahwa kita menguasai persoalan yang dibahas dan pertanyaan yang kita ajukan memang sangat menarik, bukan asal-asalan bertanya. Hal ini dapat kita buktikan melalui sikap, baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban. Sikap dan gaya kita termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan, dan posisi badan menampakkan ada tidaknya kehangatan dan antusiasme kita.
2. Kebiasaan yang perlu dihindari
a. Jangan mengulang-ulang pertanyaan apabila peserta didik tak mampu menjawabnya. Hal ini dapat menyebabkan munurunnya perhatian dan partisipasi.
b. Jangan mengulang-ulang jawaban peserta didik.
c. Jangan menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan sebelum peserta didik memperoleh kesempatan untuk menjawabnya.
d. Usahakan agar peserta didik tidak menjawab pertanyaan secara serempak, sebab kita tidak mengetahui dengan pasti siapa yang menjawab dengan benar dan siapa yang salah.
e. Menentukan siswa yang harus menjawab sebalum mengajukan pertanyaan. Oleh karena itu, pertanyaan diajukan terlebih dahulu kepada seluruh siswa. Baru kemudian guru menunjuk salah seorang untuk menjawab.
f. Pertanyaan ganda. Guru kadang mengajukan pertanyaan yang sifatnya ganda. Menghendaki beberapa jawaban atau kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa. Hasibu, Abimanya, dalam Suwarna (2006 : 76).

KETERAMPILAN MENJELASKAN

E. Pengertian
Yang dimaksud dengan keterampilan dasar mengajar menjelaskan dalam pembelajaran ialah keterampilan menyajikan informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antara satu bagian dengan lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui. (Hasibua, Raflis Kosasi dalam Suwarna, 2009 : 68). Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok, merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasn merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam kegiatan seoang guru. Interaksi di dalam kelas cenderung dipenuhi oleh kegiatan pembicaraan baik oleh tenaga pendidik sendiri, oleh tenaga pendidik dan peserta didik, maupun antar peserta didik.

Kegiatan Ini menjelaskan aktivitas engajaran yang tidak dapat dihindari oleh guru. Penjelasan diperlukan karena tidak terdapat dalam buku, sehingga guru harus menuturkan secara lisan. Ini berarti guru di tuntut untuk mampu mejnelaskan. Untuk menyampaikan bahan pelajaran yang berkaitan dengan hubungan antar konsep, guru perlu menjelaskan secara runut dan runtut. Hasil belajar yang diperoleh dari penjelasan adalah pemahaman bukanlah ingatan. Melalui penjelasan siswa hubungan sebab akibat, memahami prosedur, memahami prinsip atau membuat analogi. Sedangkan hasil belajar yang berupa igatan atau hafalan diperoleh melalui cerita.
Ditinjau dari isi yang disampaikan oleh guru kepada siswa, makna menjelaskan dapat dibedakan antara lain:
1. Menyampaikan informasi
Menyampaikan informasi adalah bentuk menyampaikan fakta dan memberikan instruksi. Isi yang disampikan tidak bersifat problematik, tetapi cukup atau sekedar untuk diketahui saja.
2. Menerangkan
Isi yang disampaikan menunjukkan “apa” atau “bagaimana” sesungguhnya sesuatu itu jadi dalam hal ini isi bersifat pengertian atau istilah.
3. Menjelaskan
Isi yang disampaikan menunjukkan “mengapa” atau untuk “apa” sesuatu terjadi demikian yang menunjukkan “hubungan” antar dua hal atau lebih
4. Memberi motivasi
Diartikan sebagai memberi dorongan, menimbulkan minat, perhatian, dan kemauan siswa.
5. Mengajukan peendapat pribadi
Mengenai uatu kejadian, peristiwa, keadaan, guru dapat mengajukan pandangan pribadinya. Sebaiknya dengan didahului kata-kata “menurut pendapat saya sendiri” dan disertai alasan-alasan fakta atau data yang mendukung pendapat itu.

F. Tujuan
Ada beberapa tujuan penggunaan penjelasaan dalam proses belajar mengajar menurut Marno (2008 : 99)
1. Untuk membimbing pikiran peserta didik dalam memahami konsep, prinsip, dalil atau hukum-hukum yang mejadi bahan pelajaran.
2. Untuk memperkuat struktur kognitif peserta didik yang berhubungan denagn bahan pelajaran.
3. Membantu peserta didik dalam memecahkan masalah.
4. Membantuk memudahkan peserta didik dalam mengasimilasi dan mengakomodasikan konsep.
5. Mengkomunikasikan ide dan gagasan kepada peserta didik.
6. Melatih peserta didik mandiri dalam mengmabil keputusan.
7. Melatih peserta didik berfikir kritis apabila penjelasan guru kuerang sistematis.
Sementara itu menurut Suwarna (2006 : 69-70) Tujuan yang hendak dicapai guru dalam memberikan penjelasan:

b. Membimbing siswa memahami dengan jelas jawaban pertanyaan “mengapa” yang siswa ajukan ataupun yang dikemukakan guru.
c. Membantu siswa mendapatkan dan memahami hukum, dalil dan prinsip umum secara objektif dan nalar.
d. Melibatkan murit untuk berfikir dengan memecahkan masalah.
e. Mendapatkan balikan dari siswa mengenai tingkat pemahamannya dan mengatasi kesalah pahaman mereka terhadap suatu pengertian
f. Membantu siswa menghayati dan mendapatkan proses penalaran dan penggunaan bukti dalam penyelesaian keadaan yang meragukan.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam kegiatan menjelaskan ada tiga hal yang saling berkaitan
1. Yang menjelaskan (guru)
2. Yang mendengarkan penjelasan (siswa)
3. Hal yang akan dijelaskan (masalah dan pemecahanya)

Dilihat dari anak yang mendengarkan penjelasan, keperluan penjelasan muncul jika dia mengemukakan masalah suatu keadaan yang belum pernah dialaminya sehingga fungsi penjelasan adalah untuk mencari atau mengaitkan hubungan antara pengalaman murid dengan gejala atau situasi baru yang belum diketahui.

Sehingga penjelasan perlu didasarkan kepada hubungan dan kaitan yang disebut secara logis antara fakta (bukti) dan hukum umum (generalisasi).

Guru harus mempertimbangkan kemampuan dan latar belakang siswa.
Prinsip yang harus diterapkan dalam memberi penjelasan :
1. Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah, atau akhir yang tergantung keperluan, atau dapat juga diselingi dengan tanya jawab.
2. Guru dapat memberikan penjelasan bila ada pertanyaan siswa atau direncanakan guru sebelumnya.
3. Penjelasan materinya harus bermakna bagi siswa
4. Penjelasan harus disesuaikan dengan latar dan kemampuan siswa.

G. Prinsip-prinsip Penggunaan
Prinsip penggunaan ketrampilan menjelaskan dalam pembelajaran dapat dilakukan: (1) pada awal, di tengah, atau pada akhir pembelajaran; penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran; (2) penjelasan harus relevan dengan tujuan pembel;ajaran yang hendak ingin di capai; penjelasan dapat diberikan apabila ada pertanyaan atau diperlukan oleh guru untuk menjelaskan, yang berarti tidak semua topik atau bahan pelajaran dijelaskan oleh guru; dan (4) penjelasan harus sesuai dengan latar belakang kemampuan siswa, terutama dalam hal penggunaan bahasa.



H. Perencanaan dan Pelaksanaan Menjelaskan
Untuk dapat menje;askan suatu hal dengan jelas, maka di tuntut untuk penguasaaan materi yang lengkap, kemampuan menganalisis pokok persoalan yang di bahas, serta perencanaan yang matang bagaimana langkah-langkahnya utuk menjelaskan materi tertentu kepada orang lain.
1. Perencanaan
Penjelasan yang akan diberikan oleh guru perlu dipersiapkan dengan perencanaan yang baik. Dalam merencanakan suatu enjelasan, ada dua hal yang perlu diperhatikan tersendiri yaitu:
A. Isi penjelasan, dengan mengadaakan analisis pengertian atau persoalan yang akan dibahas.
B. Kepada siapa penjelasan itu akan diberikan
a. Perencanaan ini analisis pengertian/persoalan
Dalam merencanakan isi penjelasan yang disampaikan guru perlu menjelaskan
a) Analisis pengertian yang diterangkan
b) Analisis pokok persoalan yang hendak dijelaskan
1) Menerangkan suatu pengertian
Dengan menerangkan suatu pengertian dimaksud berarti menguraikan jawaban artas pertanyaan apa atau bagaimana sesungguhnya sesuatu itu
Untuk menerangkan suatu pengertian, jalan yang terbukti baik adalah pola deduktif
1. Tetukan pengertian yang perlu diterangkan dan definisinya
2. Carilah ciri-ciri yang khas atau unsur-unsur pokoknya yang paling relevan.
3. Berilah contoh-contohnya
4. Carilah contoh/penerapan agar bisa mengecek pakah siswa telah menangkap penjelasan guru dengan baik atau belum.
2). Menjelaskan sesuatu
Dengan menjelaskan sesuatu berarti menguraikan jawaban atas pertanyaan mengapa atau untuk apa sesuatu itu terjadi dengan menunjukan hubungan antara dua pengertian atau lebih sehingga menjadi jelas bagaimana dua hal atau lebih itu berkaita satu sama lain.

Langkah-langkah pokok dalam merencanakan suatu penjelasan adalah sebagai berikut:
1. Menegaskan apa yang perlu dijelaskan
2. Menegaskan hubungan atau kaitanya
3. Menegaskan prinsip umum yang melandasi hubungan tersebut.
b. Penerima pesan oleh murid
Penjelasan yang diberikan oleh guru baru dapat dikatakan berhasil bila menimbulkan pengertian dalam diri siswa. Kalau penjelasan itu betul-betul jelas, hal ini akan kelihatan dari hasil siswa yang baik.

2. Pelaksanaan
Setelah merencanakan penjelasan yang baik, pelaksanaan akan baik pula. Mutu pelaksanaan dapat ditingkatkan dengan :
1. Orientasi atau Pengarahan
Dengan memberikan orientasi berarti mengantarkan siswa pada pokok persoalan yang akan dibahas dan menempatkan penjelasan yang akan disampaikan itu dalam suatu kerangka yang lebih luas.
2. Bahasa yang Sederhana
Penjelasan hendaknya diberikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa. Hindari penggunaan berbagai ucapan dan istilah yang tidak dimengerti oleh siswa
3. Penggunaan Contoh atau Ilustrasi
Dalam memberikan penjelasan sebaiknya menggunakan contoh-contoh yang ada hubungannya dan dapat ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari
4. Pemberian Tekanan
Dalam memberikan penjelasan, guru harus mengarahkan perhatian siswa agar terpusat pada masalah pokok dan mengurangi informasi yang tidak penting
5. Variasi
Sesekali perlu pula diselingi informasi lain yang ringan dan lucu pada situasi yang kurang menguntungkan seperti siang, panas, materi sulit, dan sebagainya. Variasi juga berlaku dalam penggunaan metode dan alat peraga.
6. Feed Back atau umpan Balik
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan keraguannya ketika pelajaran berlangsung dengan mengajukan pertanyaan. Perhatikan mimik serta tingkah mereka saat penjelasan berlangsung, sehingga guru dapat mengadakan penyesuaian.

Sementara itu menurut Suwarna (2009 : 70) dalam keterampilan menjelaskan terdapat komponen keterampilan dasar menjelaskan
Komponen-komponen keterampilan dasar mengajar menjelaskan menurutnya adalah sebagai berikut:
1. Komponen merencanakan
Agar penjelasan kita mudah dimengerti peserta didik, penjelasan yang kita berikan perlu direncanakan dengan baik, terutama yang berkenaan dengan isi pesan dan penerima pesan. Dua hal tersebut sangat menentukan apakah penjelasan kita tepat sasaran atau tidak.

a. Isi pesan (materi) meliputi:
1) Sebelum memberikan penjelasan, buatlahh analisis terlebih dahulu terhadap masalah secara keseluruhan. Dalam hal ini termasuk pengindentifikasian unsur-unsur apa yang akan dihubungkan dalam penjelasan tersebut.

2) Kita perlu mengenali lebih detil tentang jenis hubungan yang ada antara unsur-unsur yang dibicarakan. Jangan sampai penjelasan yang kita berikan tidak nyambung dengan tujuan pembelajaran dan topik perkuliahan.
3) Sebelum memberikan penjelasan, kita harus memahami terlebih dahulu tentang penerapan hukum, rumus atau generalisasi yang sesuai dengan masalah yang ada. Ketidakjelian kita dalam melihat formula yang tepat dari masalah yang kita bahas hanya akan menjadikan peserta didik tidak paham atau bahkan bingung.
b. Penerima pesan
Merencanakan suatu penjelasan harus mempertimbangkan penerima pesan. Penjelasan yang disampaikan tersebut sangat bergantung pada kesiapan audiens yang mendengarkannya. Hal ini berkaitan erat dengan jenis kelamin, usia, kemampuan, latar belakang sosial dan lingkungan belajar. Oleh karena itu, dalam merencanakan suatu penjelasan harus selalu mempertimbangan faktor-faktor tersebut di atas. Dalam pendidikan berlaku formula “metode lebih penting daripada materi” [al-tariqah ahammu min al-maddah]. Dalam konteks ini kecermatan kita dalam melihat siapa yang kita hadapi akan sangat menentukan jenis metode pembelajaran apa yang paling tepat digunakan di kelas.

2. Penyajian suatu penjelasan
Penyajian suatu penjelasan dapat kita tingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Kejelasan
Penjelasan hendaknya diberikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta didik. Usahakan untuk menghindari penggunaan ucapan-ucapan berikuut ini, seperti “ee”, ”aa”, ”mm”, ”kira-kira”, ”umumnya”, ”biasanya”, ”sering kali”, dan istiah-istilah lain yang tidak dapat dimengerti oleh audiens. Ungkapan-ungkapan tersebut kadang malah membuat peserta didik terganggu dan akhirnya tidak dapat menangkap pesan yang disampaikan.

b. Penggunaan contoh dan ilustrasi
Dalam memberikan penjelasan sebaiknya menggunakan contoh-contoh yang ada hubungannya dengan sesuatu yang dapat ditemui oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Kita tentu tahu konsep CTL, Contextual Teaching and Learning, bahwa proses pembelajaran yang kita lakukan seharusnya lebih bermakna bagi peserta didik. Agar lebih bermakna, maka pembelajaran harus lebih faktual dan kontekstual. Peserta didik akan lebih tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran jika dikaitkan dengan dunia mereka.

3. Pemberian tekanan
Dalam memberikan penjelesan, kita harus mengarahkan perhatian peserta didik agar terpusat pada masalah pokok, dan mengurangi informasi yang tidak penting. Dalam hal ini kita dapat menggunakan tanda atau isyarat lisan seperti: “yang terpenting”, “perhatikan baik-baik konsep ini”, “perhatikan, yang ini agak susah”.

4. Penggunaan balikan
Kita hendaknya memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan pamahaman, keraguan, atau ketidamengertiannya ketika penjelasan itu kita berikan. Berdasarkan balikan itu kita perlu melakukan penyesuaian dalam penyajiannya, misalnya kecepatannya, memberi contoh tambahan atau mengulangi kembali hal-hal yang penting. Balikan tentang sikap peserta didik dapat dijaring bersamaan dengan pertanyaan yang bertujuan menjaring balikan tentang pemahaman mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan seperti: ”Apakah kalian mengerti dengan penjelasan tadi?” Juga perlu ditanyakan, “Apakah penjelasan tadi bermakna bagi kalian?”, dan sebagainya.

Keterampilan Membimbing Diskusi kelompok Kecil

a. Pengertian Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses percakapan yang teratur, yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang bebas dan terbuka, dengan tujuan berbagai informasi atau pengalaman, mengambil keputusan, atau memecahkan suatu masalah (Mulyasa, Hasibuan dalam Suwarna,2006:79). Sedangkan pengertian keterampilan dasar mengajar membimbing diskusi kelompok kecil ialah keterampilan melaksanakan kegiatan membimbing siswa agar dapat melaksanakan diskusi kelompok kecil dengan efektif (Suwarna,2006:79).

b. Tujuan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil bertujuan sebagai
berikut :
1. Siswa dapat saling memberi informasi atau pengalaman dalam menjelajahi gagasan baru atau masalah yang harus dipecahkan mereka
2. Siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir dan berkomunikasi
3. Siswa terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan (Mulyasa, Hasibuan dalam Suwarna,2006:80).


c. Komponen-komponen Keterampilan Membimbing Diskusi
1. memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi
a). Rumuskan tujuan dan topik yang akan dibahas pada awal diskusi
b). Kemukakan masalah-masalah khusus
c). Catat perubahan atau penyimpangan diskusi dari tujuan
d). Rangkum hasil pembicaraan diskusi
2. memperjelas masalah maupun usulan/pendapat
a). Merangkum usulan tersebut sehingga menjadi jelas
b). Meminta komentar siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang membantu mereka memperjelas atau mengembangkan ide tersebut
c). Menguraikan gagasan siswa dengan memberikaninformasi tambahan atau contoh-contoh yang sesuai sehingga kelompok dapat memperoleh informasi secara lebih jelas.
3. Menganalisis pandangan/pendapat siswa.
Di dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat di antara anggota kelompok. Dengan demikian guru hendaknya mampu menganalisis alasan perbedaan tersebut dengan cara sebagai berikut :
a). Meneliti apakah alasan tersebut memang mempunyai dasar yang kuat
b). Menjelaskan hal-hal yang disepakati maupun yang tidak disepakati

4. Meningkatkan usulan siswa
a) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk berpikir
b) Memberikan contoh-contoh verbal yang sesuai secara tepat
c) Memberikan waktu untuk berpikir
d) Memberikan dukungan kepada usulan pendapat siswa dengan penuh perhatian.

5. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
a). Mencoba memancing usulan siswa yang enggan berpartisipasi dengan mengarah langsung secara bijaksana
b). Mencegah terjadinya pembicaraan serentak dengan memberi giliran kepada siswa yang pendiam terlebih dahulu
c). Secara bijaksana mencegah siswa yang suka memonopoli pembicaraan.
d). Mendorong siswa untuk mengomentari usulan temannya sehingga interaksi antar siswa dapat ditingkatkan.

6. Menutup diskusi
a). Dengan bantuan para siswa, membuat rangkuman hasil diskusi.
b). Memberi gambaran tentang tindak lanjt hasil diskusi.
c). Mengajak siswa untuk menilai proses maupun hasil diskusi yang telah tercapai (Mulyasa, Hasibuan dalam Suwarna,2006:81).

d. Prinsip Penggunaan Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil memiliki dua prinsip, yaitu :
1. Diskusi hendaknya berlangsung dalam “iklim terbuka”
Hal ini ditandai dengan adanya keantusiasan berpartisipasi, kehangatan hubungan antar pribadi, kesediaan menerima dan mengenal lebih jauh topik diskusi, dan kesediaan menghargai pendapat orang lain. Dengan demikian semua anggota kelompok mempunyai keinginanuntuk dikenal dan dihargai, dapat merasa aman dan bebas mengemukakan pendapat.
2. Perlu perencanaan dan persiapan yang matang
a) Topik yang dipilih hendaknya sesuai dengan tujuanyang akan dicapai, minat dan kemampuan siswa
b) Masalah hendaknya mengandung jawaban yang kompleks, bukan jawaban yang tunggal
c) Adanya informasi pendahuluan yang berhubungan dengan topik tersebut agar para siswa memiliki latar belakang pengetahuan yang sama sehingga mampu memberikan penjelasan dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memotivasi siswa (Hasibuan, Wardani dalam Suwarna,2006:82).

Keterampilan Mengelola Kelas

a. Pengertian Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya apabila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar (Mulyasa, Hasibuan dalam Suwarna,2006:82).

Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola”, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu management yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan. (Djamarah 2006:175).

“Pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan” Dekdibud (dalam Rachman 1997:11). Pengelolaan dalam pengertian umum menurut Arikunto (dalam Djamarah 2006:175) adalah pengadministrasian pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Hadari Nawawi memandang kelas dari dua sudut, yaitu:
1. Kelas dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekadar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangan yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. (Djamarah2006:176).

Maka pengelolaan kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis yang mengarah pada penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai.

b. Tujuan Pengelolaan kelas
Keterampilan mengelola kelas bertujuan untuk :
1. Mendorong siswa mengembangkan tingkah lakunya sesuai tujuan pembelajaran
2. Membantu siswa menghentikan tingkah lakunya yang menyimpang dari tujuan pembelajaran
3. Mengendalikan siswa dan sarana pembelajaran dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran
4. Membina hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi efektif. (Hasibuan, Bola dalam Suwarna,2006:82).
Sementara itu menurut Ahmad (1995:2) bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah sebagai berikut:
1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
4. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

Tujuan pengelolaan kelas menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:170) pada hakikatnya terkandung dalam tujuan pendidikan. Tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja. Terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa. Sedangkan Arikunto (dalam Djamarah 2006:178) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisian.
Menurutnya sebagai sebuah indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah apabila:
1. Setiap siswa terus bekerja, tidak macet artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tahu ada tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan padanya.
2. Setiap siswa terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu artinya setiap siswa akan bekerja secepatnya supaya lekas menyelesaikan tugas yang diberikan padanya




c. Komponen-Komponen Pengelolaan Kelas
Komponen keterampilan mengelola kelas yang perlu kita perhatikan adalah sebagai berikut:
1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif)
Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan kita dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan kegiatan pembelajaran, sehingga berjalan secara optimal, efisien dan efektif. Keterampilan tersebut meliputi:
a. Menunjukkan sikap tanggap. Tanggap terhadap perhatian, keterlibatan, ketidakacuhan, dan ketidakterlihatan dalam tugas-tugas di kelas. Setiap peserta didik merasa bahwa kita hadir bersama mereka dan tahu apa yang mereka perbuat.
b. Memberi perhatian. Pengelolaan kelas yang efektif terjadi apabila kita mampu membagi perhatianya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara visual dan verbal. Secara visual kita dapat memberikan pandangan yang merata tidak hanya satu arah saja. Sementara itu, secara verbal, kita dapat mengungkapkan dengan kata-kata tentang perhatian kita kepada semua peserta didik.
c. Memusatkan perhatian kelompok. Kegiatan pembelajaran akan berjalan dengan baik dalam waktu lama jika kita mampu memusatkan perhatian kelompok pada tugas-tugas yang dilakukan.
d. Memberikan petunjuk yang jelas. Penyampaian informasi maupun pemberian petunjuk yang kita sampaikan seharusnya secara jelas dan singkat sehingga peserta didik tidak kebingungan
e. Menegur
Apabila ada peserta yang bertingkah laku mengganggu di kelas, hendaknya kita memberi peringatan bahwa hak orang lain untuk memperhatikan pelajaran harus dihargai sehingga kita dapat mengharapkan kepada semua peserta agar saling menghargai satu sama lain.
f. Memberi penguatan. Kita dapat memberikan penguatan negatif kepada peserta didik yang mengganggu, atau penguatan positif kepada peserta didik yang bertingkah laku wajar. Ini tidak berarti seperti anak kecil yang suka dieri ancaman atau hadiah, hanya saja proses perkuliahan agar efektif kita kembalikan ke kontrak belajar pada saat pertemuan pertama.
2. Keterampilan tentang cara mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Keterampilan ini berkaitan dengan respons kita terhadap penyimpangan yangmungkin terjadi dari tujuan perkuliahan. (Mulyasa,Hasibuan dalam Suwarna, 2006:84).
Sementara itu menurut Djamarah (2006 : 186) komponen-komponen ketrampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif) dan ketrampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari ketrampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Ketrampilan suka tanggap ini dapat dilakukan dengan cara memandang secara seksama, gerakan mendekat, memberi pertanyaan, dan memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan. Yang termasuk ke dalam ketrampilan memberi perhatian adalah visual dan verbal. Tetapi memberi tanda, penghentian jawaban, pengarahan dan petunjuk yang jelas, penghentian penguatan, kelancaran dan percepatan, merupakan sub bagian dari ketrampilan pemusatan perhatian kelompok.

d. Prinsip-prinsip Penggunaan Keterampilan Mengelola kelas
Ada beberapa prinsip keterampilan mengelola kelas yang berguna pada saat proses pembelajaran :
1. Modifikasi tingkah laku. Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang mengalami masalah, dan memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
2. Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara : memperlancar tugas-tugas, memelihara kegiatan kelompok, memelihara semangat siswa dan menangani konflik yang timbul.
3. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk engendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ketidakpatutan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya (hasibuan, Bolla dalam Suwarna,2006:84).

Djamarah (2006:185) menyebutkan “Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas dapat dipergunakan.” Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut:
a. Hangat dan Antusias
Hangat dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
b. Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
c. Bervariasi
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
d. Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajarmengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.
e. Penekanan pada Hal-Hal yang Positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
f. Penanaman Disiplin Diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.

e. Berbagai Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas
Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:
a. Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.

b. Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.

c. Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.

d. Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.

e. Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.

f. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral.

g. Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terrciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.

h. Pendekatan Kerja Kelompok
Dalam pendekatan in, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.

i. Pendekatan Elektis atau Pluralistik
Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dan atau ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dan penggunaannnya untuk pengelolaan kelas disini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.

f. Kelas Yang Nyaman dan Menyenangkan
Beberapa syarat yang perlu diupayakan agar kelas nyaman dan menyenangkan adalah sebagai berikut:
1. Tata Ruang Kelas
Pada prinsipnya sistem belajar yang kita anut di SD adalah sistem klasikal. Tetapi ada beberapa metode mengajar yang tidak selalu memakai sisten klasikal, misalnya metode eksperimen, diskusi kelompok, dan lain sebagainya. Dalam penataan ruang kelas, almari kelas dapat ditempatkan disamping papan tulis atau disamping meja guru. Jika ada almari kelas tambahan dapat ditaruh dibelakang kelas, sebaiknya almari tersebut terbuat dari kaca untuk penyimpan piagam,vandel, dan kepustakaan kelas. Pengaturan tempat perabot kelas dapat dipindah-pindahkan sesuai dengan keadaan atau kondisi setempat. (Dirjen Dikti, 1996:18).
2. Menata Perabot Kelas
Ahmad (2004:19) menyatakan “ perabot kelas adalah segala sesuatu perlengkapan yang harus ada dan diperlukan kelas”

Menurut Djauzak Ahmad (2004:20) perabot kelas meliputi : (a) papan tulis, (b) meja kursi guru, (c) meja kursi siswa, (d) almari kelas, (e) jadwal pelajaran, (f) papan absensi, (g) daftar piket kelas, (h) kalender pendidikan, (i) gambar-gambar, (j) tempat cuci tangan, (k) tempat sampah, (l) sapu dan alat pembersih lainnya, dan (m) gambar-gambar alat peraga.

Dari pendapat Ahmad dapat diuraikansebagai berikut:
a. Papan Tulis
Papan tulis harus cukup besar dan permukaan dasarnya harus rata.Warna dasar papan tulis yang mulai menipis atau belang harus segera di cat ulang. Papan tulis harus ditempatkan di depan dancukup cahaya. Penempatannya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, sehingga siswa yang duduk dibelakang masih melihat atau membaca tulisan yang paling bawah
b. Meja kursi Guru
Meja kursi guru ukurannya disesuaikan dengan standart yang ada, meja guru berlaci dan ada kuncinya, meja kursi guru ditempatkan di tempat strategis, misalnya di kanan atau di kiri papan tulis, supaya tidak menghalangi pandangan siswa ke papan tulis.
c. Meja kursi Siswa
Meja kursi siswa ditata sedemikian rupa sehinggga dapat menciptakan kondidsi kelas yang menyenangkan, ukuran mejadan kursi disesuaikan dengan ukuran badan siswa dan dilengkapi dengan tempat tas atau buku.
d. Alamari Kelas
Alamari kelas dapat ditempatkan di samping papan tulis atau sebelah kiri atau kanan dinding bisa juga diletakkan di sebelah meja guru.
e. Jadwal Pelajaran
Jadwal pelajaran ditempatkan di tempat yang mudah dilihat.
f. Papan Absensi
Papan absensi ditempatkan di sebelah papan tulis atau di dinding samping kelas. Guru juga harus memiliki catatan daftar hadir siswa di buku khusus, karena daftar hadir di papan diganti setiap hari sesuai keadaan.
g. Daftar Piket kelas
Daftar piket kelas ditempatkan di samping papan absensi.
h. Kalender Pendidikan
Kalender pendidikan ditempel pada tempat yang mudah dilihat.
i. Gambar-Gambar
Gambar Presiden, Wakil Presiden, dan lambing burung Garuda Pancasila ditempatkan di depan kelas di atas papan tulis, posisi penempatannya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
j. Tempat Cuci Tangan dan Lap Tangan
Tempat cuci tangan dan lap tangan diletakkan di depan kelas dekat pintu masuk.
k. Tempat sampah
Tempat sampah diletakkan di sudut kelas. Besar kecilnya tempat sampah disesuaikan dengan kebutuhan.

Jumat, 04 Maret 2011

CARA MENCARI IDE UNTUK MENULIS DAN MENUANGKAN BAHAN YANG DIKEMBANGKAN DALAM MENULIS PUISI

CARA MENCARI IDE UNTUK MENULIS DAN MENUANGKAN BAHAN YANG DIKEMBANGKAN DALAM MENULIS PUISI
Beberapa cara dapat kita lakukan untuk ‘memancing’ ide agar kita bisa membuat tulisan tanpa perlu merasa kesulitan dalam mencari ide. menurut Andi (dalam http.forumkami.com) ada beberapa cara untuk ‘memancing’ ide agar kita bisa membuat tulisan tanpa perlu merasa kesulitan dalam mencari ide.
1. Tingkatkan kepekaan diri terhadap peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar.

Lingkungan sekitar kita berpotensi sebagai tema tulisan. Banyak peristiwa yang terjadi dalam satu hari, yang pastinya terkandung peristiwa unik, yang dapat dijadikan bahan tulisan. Kita harus peka dan mau melihat segala peristiwa dari sudut pandanng yanng berbeda. Ini penting supaya kita mempunyai ide brilian yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain sebelumnya.

2. Ambil hikmah dan refleksikan setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

Setelah kita melihat sebuah hal, jangan hanya melihatnya selayang pandang saja; melihat lalu mengacuhkannya. Dalam setiap peristiwa pasti terkandung sebuah hikmah yang tidak setiap orang dapat mengungkapkannya. Tidak terkecuali, sebuah musibah pasti menyimpan hikmah yang dapat kita jadikan bahan refleksi.

Refleksi yang kita tangkap dapat kita jadikan tulisan, entah berupa cerpen, puisi, novel, berita, artikel, skenario film, naskah pidato, bahan training, dsb. Semua bahan refleksi tadi dapat dijadikan ide tulisan sesuai dengan minat kita. Tinggal bagaimana kita mau mengemasnya dalam tulisan nanti.

3. Perbarui otak kita dengan vitamin otak yang segar.

Vitamin yang dimaksudkan di sini bukanlah suplemen penguat memory dalam otak yang sering kita jumpai di televisi. Vitamin otak di sini adalah wawasan dan pengetahuan yang terus kita tambahkan dengan memanfaatkan berbagai sumber, seperti media massa, cetak maupun elektronik. Kita bisa mencari ide dengan membaca koran, majalah, mendengarkan radio, browsing berita di internet, menonton televisi, dsb. Semua media di atas akan memudahkan kita dalam menambah pengetahuan.

Kita tidak boleh terpaku untuk mencari berita yang berkaitan dengan bidang kita saja. Namun, kita juga perlu menambah wawasan di luar bidang kita. Bagaimanapun juga, tidak ada pengetahuan yang sia-sia. Semua hal yang kita ketahui bermanfaat bagi kita, dan dapat mengasah pola pikir, serta menambah intelektualitas kita sebagai makhluk intelektual.

4. Jangan buang ide yang muncul, catatlah, dan buat buku catatan inspirasi.

Setiap kali kita menemukan ide baru, janganlah dianggap remeh, atau membuangnya begitu saja. Catat dan buatlah sebuah buku inspirasi yang memuat semua ide tersebut. Jangan takut ide kita tidak relevan dengan tulisan yang ingin kita buat saat ini. Bisa jadi ide kita dapat digunakan di lain kesempatan, dan kita tinggal memilah mana ide yang relevan, atau mana yang mendukung tulisan berikutnya.

Ada baiknya kita membawa sebuah buku catatan, kertas kecil, handphone, atau apa saja yang dapat digunakan sebagai media menulis. Setelah tercatat, kita bisa pindahkan dalam buku inspirasi yang kita buat. Ingat, tulis ide-ide kita di sebuah buku agar inspirasi kita tidak terpisah-pisah, dan kita juga mudah menggunakannya ketika butuh.

5. Ketika melihat masalah muncul, berpikirlah kreatif.

Kreatif merupakan hal yang sering ditekankan oleh setiap orang dalam berpikir. Kenapa harus dengan cara kreatif? Karena, dengan pola pikir yang sama seperti kebanyakan orang, mungkin kita tidak akan menemukan something new, something different, yang membuat kita berbeda dari orang lain. Kreativitas yang tinggi merupakan nilai berharga yang wajib dimiliki oleh setiap penulis. Dengan berpikir kreatif, kita pun dituntut untuk terus mengasah kinerja otak serta membiasakan diri untuk tidak menunggu insight. Sebaliknya, kita harus mampu memunculkan insight setiap saat.

6. Tidak ada ide yang salah.

Kita perlu membangun sebuah konsep yang harus kita tanamkan dalam diri kita, bahwa tidak ada ide yang salah. Kita harus berani mengungkapakan segala ide yang muncul. Kesalahan kita bianya lebih karena takut mengungkap ide tersebut menjadi sebuah tulisan. Sehingga, kita mempunyai banyak kekhawatiran yang tidak beralasan. Akibatnya, kekhawatiran itu justru menghambat kita dalam menulis.

Jadi, jangan pernah takut mengungkapakan sebuah ide. Karena, setiap ide adalah hal yang berharga. Jangan sampai kita menyesal kalau kita tidak jadi mengungkapkan ide kita, dan pada akhirnya orang lainlah yang sukses mengungkapkan ide yang ternyata mirip dengan punya kita.

7. Rekreasi atau refresh otak dengan hal-hal yang menyenangkan.

Jika kita lelah dan tubuh bekerja terlalu keras, ada baiknya kita rekreasi atau cari kegiatan yang bisa menyegarkan kembali tubuh maupun pikiran kita. Jika waktu kita terbatas, kita dapat melakukan hobi yang sudah lama ditinggalkan. Hal ini akan membantu menyegarkan tubuh dan pikiran sehingga kita dapat bekerja dengan suasana yang lebih bagus lagi. Selain melakukan hobi lama, kita juga dapat berkunjung ke rumah saudara atau teman sekadar melepaskan penat atau cari inspirasi.

8. Terus asahlah otak dengan menulis kejadian sehari-hari.

Tidak memerlukan ide besar dalam menulis kejadian sehari-hari. Menuliskan kejadian sehari-hari akan membuat kita mampu menganalisis sebuah peristiwa dengan lebih baik. Dengan menulis, kita akan semakin terlatih dalam mengungkapkan ide ke dalam sebuah tulisan. Bisa jadi tulisan kita tentang peristiwa sehari-hari merupakan hal yang menarik untuk dikembangkan, sehingga kita tidak mengalami kesulitan lagi dalam mencari ide.


9. Berbicaralah dan berdiskusilah dengan orang lain.

Berbicara dan berdiskusilah dengan orang lain tentang berbagai topik. Ini akan membuka pikiran dan wawasan kita. Pertukaran ide melalui diskusi akan semakin memperkaya hasil analisis kita terhadap sebuah masalah. Dengan begitu, kita dapat dengan lebih mudah menemukan solusi atas suatu masalah, terlebih lagi jika kita sebelumnya kesulitan menemukan solusinya. Andi (dalam http.forumkami.com).

2.2 PROSES PENULISAN SEBUAH PUISI
Sebagai sebuah aktivitas berkesenian, puisi memiliki sebuah proses kreatif dibaliknya. Selain sebagai sebuah aktivitas berkesenian, puisi juga merupakan sebuah aktivitas menulis, atau dalam bahasa saya akan saya istilahkan sebagai aktivitas pembahasaan. Puisi memiliki muatan-muatan bahasa, ada kata, ada frasa, ada kalimat, ada tujuan berkomunikasi, dan adanya sebuah ekspresi. Setiap puisi tidak serta merta hadir begitu saja tanpa adanya sebuah proses panjang. Proses tersebut yang nantinya akan membedakan puisi dengan karya tulis lainnya, yang juga merupakan aktivitas pembahasaan, seperti cerpen, novel, curahan hati, bahkan karya-karya ilmiah macam skripsi, essay, jurnal, dan lain sebagainya. Lantas bagaimana sebuah puisi itu bisa muncul dalam sebuah tulisan, dan apa yang membuat dia berdiri sebuah karya bernama puisi, bukan karya tulis lainnya?
Menurut Beni (dalam http://pabriksendal.wordpress.com/2010/10/02/proses-sebuah-puisi/), sebuah puisi hadir akibat dari harapan si penulis tentang puisi itu sendiri. Puisi bergentayangan dalam bentuk ide, dan masih tercerai berai dalam bentuk kata-kata. Ketika ada sebuah tragedi/peristiwa/fenomena, barulah si penulis mengeluarkan puisi tersebut, kata demi kata dari dalam dunia idenya. Apa yang nantinya membedakan kata-kata yang ingin dipakai dalam puisi itu menjadi sebuah kata-kata puitis, adalah harapan. Apabila kita berharap menulis puisi, tentu kita akan memilih dan menyeleksi kata apa yang ingin kita pakai, dan kata mana yang tidak ingin kita pakai. Begitupun ketika kita ingin menulis sebuah karya tulis lain, dan harapan awal menentukan bentuk karya tulis kita. Sederhananya, apabila awalnya kita berharap menulis essay, ditulis dengan gaya puitis pun hasil akhirnya tetap essay.
Kemudian, setelah harapan menulis puisi itu muncul, si penulis kemudian mencari ide untuk puisinya. Ide ini menentukan tentang hal apa yang ingin dia tulis dalam bentuk puisi. Apabila ide tersebut tak kunjung hadir, harapan si penulis untuk menulis puisi pun bisa menjadi ide. Misalnya saja puisi sebagai berikut.
Aku ingin menulis puisi, entah darimana asalnya. Aku kehabisan akal untuk menangkapnya. Entah dia terbuat dari hal macam apa, entah daun kering, tanah menggumpal, atau hanya berbentuk cahaya yang genit menembus dinding kamarku. Aku bingung, harus mulai darimana.Puisi adalah kebingungan itu sendiri.
Puisi sederhana tersebut menggambarkan bahwa ide yang didapat dalam menulis puisi berasal dari harapan tentang menulis puisi itu sendiri. Aku ingin menulis puisi, entah darimana asalnya. Aku kehabisan akal untuk menangkapnya, menggambarkan bahwa si penulis tidak punya ide untuk dibahas dalam puisinya, dan ide tersebut diambil dari harapannya untuk menulis puisi, tentang kebingungan menulis puisi itu sendiri. Entah dia terbuat dari hal macam apa, entah daun kering, tanah menggumpal, atau hanya berbentuk cahaya yang genit menembus dinding kamarku, merupakan sebuah pengalaman atau hal-hal yang ada disekitar si penulis.
Puisi sangat dipengaruhi oleh pengalaman bahasa si penulis puisi itu sendiri. Sebagai contoh puisi diatas tadi, penulis satu dengan penulis lain memiliki pengalaman bahasa sendiri-sendiri. Pengalaman bahasa bisa muncul dari buku apa yang dia baca, hal-hal apa yang ia senangi, dan orang macam apa dia. Hal tersebut menentukan bentuk puisi yang ditulis. Saya akan mencontohkan sebuah puisi lagi, masih menggunakan puisi yang sama, hanya saja sedikit dirubah.
Tak ada puisi hari ini. Hanya huruf p-u-i-s-i yang berserakan diatas meja.Yang kubaca TAHI.
Puisi tersebut sama saja dengan puisi sebelumnya, hanya saja beda ekspresinya. Ini yang saya maksud dengan pengalaman bahasa menentukan sebuah puisi itu seperti apa.
Ketika ketiga hal tersebut (harapan—ide—pengalaman bahasa) dirangkai menjadi sebuah rantai, maka yang harus segera dilakukan adalah menulis. Pengalaman bahasa masih berbentuk konsep-konsep di alam ide si penulis puisi. Artinya, setiap penulis puisi mempunyai konsep-konsep sendiri yang selalu ada didalam kepalanya, yang bisa saja dia katakan/tuliskan setiap saat. Ketika pengalaman bahasa tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan, barulah puisi itu muncul dan bisa dibaca oleh setiap orang.
Ada sebuah garis putus yang menghubungkan antara harapan si penulis terhadap puisi dengan aktivitasnya menulis puisi itu. Garis tersebut menggambarkan bahwa ada sebuah korelasi antar keduanya. Aktivitas menulis puisi tersebut adalah sebuah kristalisasi dari harapan-harapannya tentang puisi itu sendiri. Ketika aktivitas menulis berhenti, maka terciptalah sebuah puisi yang merupakan ekses dari rangkaian semua itu.

Menulis merupakan suatu kegiatan yang sangat menyenangkan, apalagi kegiatan menulis kita berjalan lancar tanpa ada halangan dalam mencari ide, tapi jika mencari ide saja sudah sulit menulis akan terlihat membosankan dan sangat berat di otak. Menurut Rizal (dalam http://rizalfikry.com) ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan ide, diataranya:
1. Mulailah menerawang tentang hal-hal unik dalam diri kita sendiri. Hal unik dalam diri kita akan lebih mudah di imajinasikan dan itu akan mempermudah kita dalam menulis. Dan jika tulisan sudah jadi kita akan bangga dengan tulisan itu, karena itu adalah diri kita.
2. Setelah diri kita, ambil pokok masalah atau hal menarik di sekitar kita. Hal disekitar kita sama gampangnya diangkat sebagai tulisan seperti diri kita karena kita berinteraksi dengan itu setiap hari.
3. Bisa juga kita mengambil masalah yang sedang ‘in’ di daerah kita, di Negara kita ato di Dunia. Seperti masalah KPK sama POLRI, atau masalah kiamat 2012, semua topik tersebut pantas untuk ditulis dengan bentuk tulisan seperti apapun *resiko ditanggung penulis*.
4. Bisa juga kita mencari ide tentang suatu hal yang kita sukai, karena menulis apa yang kita suka seperti bermain dengan apa yang kita suka.
5. Menulis tentang kuliah kita juga bisa kita lakukan
6. Cari referensi tentang ide dari buku-buku.

Penulisan puisi memerlukan kreativitas dan imajinasi yang tinggi agar puisi-puisi yang kita ciptakan tidak monoton ataupun biasa-biasa saja. Penulisan puisi yang serius dapat menjadikan kita seorang penyair yang berkualitas. Jadi, kita menciptakan puisi tidak hanya untuk sekadar mengisi waktu luang dan iseng belaka. Tetapi lebih pada keseriusan untuk membuat karya sastra yang penuh makna.
Kegiatan menulis memang membutuhkan kerja otak yang lebih, seperti halnya kegiatan membaca. Menulis merupakan salah satu cara mengungkapkan pikiran, rasa, ide ataupun keinginan tanpa perlu takut atau menjadi salah tingkah. Menulis dengan keseriusan dapat membawa kita kepada kesuksesan.
a. Aturan Main Penulisan Puisi
Untuk penulisan puisi baru atau modern, aturan baku yang ada dalam puisi lama tidak berlaku. Hal ini disebabkan oleh keinginan para penyair untuk memiliki kebebasan dalam mengungkapkan rasa dan ide-idenya. Kebebasan berkarya itulah yang membuat kebebasan bentuk, isi, dan gaya penulisan puisi modern.
Tidak ada juga ketentuan tentang bahasa puisi harus metaforis atau merupakan kumpulan kata-kata indah. Karena bahasa yang dipergunakan dalam penulisan puisi, bahkan bisa hanya berupa tanda baca saja. Namun, seyogyanya penulisan puisi (bagaimanapun bentuk dan isinya) tetap memiliki maksud serta tujuan positif yang dapat dipertanggungjawabkan dalam moral berkesenian. Bukan menulis puisi hanya untuk mencari sensasi atau hanya untuk disebut sebagai sang penyair.
Menurtu Anne (dalam anneahira.com) unsur-unsur puisi terdiri dari rangkaian ide atau pemikiran, imajinasi, irama, susunan kata, serta kepekaan rasa. Kesemua unsur ini haruslah ada dalam sebuah karya puisi. Dengan semua unsur penciptaan inilah puisi dibuat. Meskipun unsur-unsur dalam sebuah puisi hampir semuanya sama, tetapi gaya penulisan dan pengungkapan masing-masing penyair berbeda-beda.
b. Beberapa Contoh Gaya Penulisan Puisi
Hampir semua orang dapat menulis puisi, di antara sekian banyak puisi yang tercipta. Beberapa diantaranya memiliki gaya penulisan puisi yang sangat khas, menjadi ciri tersendiri bagi si penulis atau penyairnya. Gaya penulisan dengan keindahan kata, lirik-lirik ritmis, biasanya merupakan ungkapan perasaan tentang cinta atau keindahan dari si penyair. Contohnya, puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad atau Soni Farid Maulana.
Gaya penulisan dengan bahasa lugas, jelas dan tanpa metafora sama sekali. Pesan dari isi puisi pun dapat langsung kita tangkap. Puisi Widji Tukul yang berani dan tanpa tedeng aling-aling merupakan salah satunya.
Gaya penulisan puisi dengan bahasa yang ‘gelap’ atau biasa disebut absurd. Maksudnya ialah kosakata yang dipakai memang berupa kosakata yang dapat dipahami, penggunaan struktur kalimatnya pun mudah dimengerti, tetapi karena penempatan konsepnya yang arbitrer dengan teknik intertekstualitas (artinya penciptaan makna yang lintas teks atau makna-makna yang ada saling tergantung pada makna yang lainnya) dan brikolase (penataan ulang dengan memadukan simbol-simbol yang sebelumnnya tidak berkaitan menjadi berkaitan dan menghasilkan makna-makna baru dalam konteks yang baru.
Gaya penulisan puisi dengan kata-kata yang terkristalisasi. Daya magis penulisan puisinya terdapat dalam diksi yang betul-betul terpilih, yang bermakna dari sebuah proses pencarian kata yang betul-betul dalam hingga ke saripati katanya. Jadi setiap kata memiliki makna yang betul-betul serius, tak ada kata yang ‘sekedarnya saja’.
Yang terakhir ialah gaya penulisan model Sutardji Calzoum Bachri, ia memilih serta merangkai kata-kata bagai mantra, tanpa sarat beban pemaknaan dalam kata-katanya. Ia seolah menari dengan setiap kata, huruf, bahkan tanda baca.
Memilih gaya penulisan puisi yang mana saja adalah hak kita. Asalkan benar-benar memahami setiap pemaknaan karya milik kita sendiri. Sah-sah saja, kita ingin menjadi penyair yang model bagaimanapun. Istilah mudahnya, yang penting ‘berkonsep’.

2.3 TAHAP-TAHAP DALAM PROSES PENULISAN PUISI
Sebelum seorang penyair berhasil menciptakan sebuah puis, maka pada umumnya akan melewati sejumlah tahap. Utami Munandar 1993 menyimpulkan ada empat tahap dalam proses pemikiran kreatif yang juga berlaku dalam roses penciptaan karya sastra, termasuk puisi. Empat tahap tersebut adalah:
1. Tahap persiapan dan usaha
Pada tahap ini seseorang akan mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan. Semakin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki seseorang mengenai masalah atau tema yang digarapnya, makin memudahkan dan melancarkan perlibatan didirinya dalam proses tersebut (Munandar, 1993)
2. Tahap inkubasi atau pengendapa
Yaitu dengan cara mengolah semua bahan mentah dan diperkaya dengan masuka dari alam prasadar yaitu semua pengetahuan dan pengalaman relefan yang telah diperoleh. (munandar, 1993)
3. Tahap iluminasi (mengekspresikan gagasan atau ide dalam karya puisi.
Ada hal-hal yang harus diperhatikan sebelumnya, yaitu yang berkaitan dengan sifat ekspresi puisi yang secara karakteristik berbeda dengan proses.
4. Tahap verifikasi
Tujuan dari verifikasi adalah untuk menghasilkan suatu karya yang siap untuk dikomunikasikan (Muanandar, 1993).

Pada awal proses kreatinya, setiap kali selesai menulis puisi, penyairu Linus Suryadi A.G (1984) melakukan verifikasi sebagai berikut: “setiapa kali saya selesai menulis sebuah puisi, lalu sasy bandingkan dengan karya mereka (para penyair terkenal seperti Subagyo Sastrowardoyo, Sapardi Joko Damono, dll)”.

Seperti halnya membuat suatu tulisan puisi juga memiliki Proses pembuatan. Proses pembuatan Puisi tersebuat menurut Andi (dalam http://forumkami.com) yaitu:

a) pikiran dan perasaan
Keinginan menulis puisi biasanya diawali dengan munculnya gagasan. Gagasan tiba-tiba melintas begitu saja ketika perhatian kita tertuju pada suatu objek atau pengalaman. Apa yang ditangkap oleh mata dan telinga, mengkristal dalam pikiran kita hingga menjadi sebuah tema. Dari gagasan yang mengkristal menjadi tema itu kemudian diterjemahkan oleh perasaan untuk diungkapkan dengan bahasa.
b) ungkapan
Apa yang ada di pikiran dan perasaan tadi mulailah kita ungkapkan dengan menuangkannya ke dalam kata-kata. Sebagai alat ekspresi, maka kata-kata harus betul-betul bisa mengungkapkan apa yang di kepala dan hati tadi. Untuk itulah, mulailah sebuah proses pemilihan kata (diksi). Proses ini biasanya dianggap bagian paling sulit dalam pembuat puisi karena tidak mudah dan cepat untuk menemukan kata-kata yang sesuai.
c) interpertasi
Ketika kita menemukan sejumlah kata, maka proses yang mengiringinya adalah mencoba menginterpertasikan atau membuat penafsiran terlebih dahulu apakah kata-kata yang kita pilih itu mempunya makna yang sesuai dengan keinginan kita. Untuk itu, kembali kita lihat bagaimana hubungan antarkata hingga menjadi larik, hubungan antarlarik hingga menjadi bait, dan hubungan antarbait, termasuk pemenggalannya (anyambemen) hingga sesuai dengan tema yang ada dalam pikiran dan perasaan kita.
d) indah
Kesempurnaan sebuah puisi adalah ketika pikiran dan perasaan kita dapat terwakili dengan pas dan sesuai oleh kata-kata yang terpilih dan menimbulkan bunyi-bunyi yang indah. Ada kepuasan tersendiri ketika puisi yang kita buat sudah mampu memenuhi keiinginan kita dan mampu menarik perhatian bagi penikmatnya karena keindahannya.


Berikut tahapan dalam membuat puisi menurut Andi (dalam http.forumkami.com):
1. Pencarian ide
Kumpulkan atau gali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian atau peristiwa, pengalaman (pribadi), social (masyarakat), ataupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).
2. Perenungan
Memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari ide yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.
3. Penulisan
Inilah proses yang paling rumit, mengerahkan energi kreatif (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi(peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendak mencari dan menemukan kata ataupun kalimat yang tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.
4. Perbaikan atau revisi
Baca kembali karya yang telah Anda ciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian, mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak atau kurang tepat.
Biasanya, proses revisi atau perbaikan ini memakan waktu lama, hingga puisi tersebut telah dianggap jadi dan tidak lagi dapat diubah atau diperbaiki oleh penulisnya.
Untuk mahir berpuisi, maka Anda harus terbiasa dan akrab dengan kegiatan membaca. Apapun yang Anda baca, Anda harus melahapnya dalam porsi lebih. Hal ini untuk memunculkan kreatifitas pandang pikir.
Selain itu, Anda juga harus mampu membaca segala yang tersurat dan tersirat dalam kehidupan ini. Baik itu kejadian-kejadian dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, membaca keadaan diri Anda (pengalaman dan cara pandang).
Singkatnya, Anda harus mampu menemukan hal-hal yang menjadi inspirasi dan kekuatan Anda dalam berkarya dari manapun sumbernya. Biasakan pula diri Anda membaca kritik-kritik puisi yang ada. Hal ini mampu membangun apresiasi dengan baik.
Setidaknya dengan membaca sebuah kritik karya, Anda akan akan mampu melihat sebuah kelemahan dan keunggulan karya yang dikritik itu sehingga memperkaya wawasan Anda dalam menulis.
Hal penting lainnya adalah menulis. Meski ada beberapa cara, namun Anda tidak perlu terlalu terikat pada aturan. Anda bebas menulis apa saja sesuai keinginan hati, baru kemudian melakukan pengeditan.
Untuk berlatih, Anda juga bisa melakukan teknik copy the master, yaitu dengan memenggal sebagian puisi yang berirama lalu kita lanjutkan dengan tulisan Anda sendiri. Cara ini sangat efektif untuk mengasah kemampuan menulis Anda.
Hal yang tidak kalah penting adalah banyak berlatih dan tidak terpaku pada satu gaya penulisan. Sering-seringlah berlatih, melakukan diskusi atau membahas karya bersama penikmat dan pemerhati karya sastra, dan menyempurnakan karya-karya tulisan Anda, maka kemampuan Anda dalam berpuisi akan semakin terasah dengan baik.

MENGORGANISASIKAN BAHAN YANG AKAN DIKEMBANGKAN DALAM MENULIS PROSA FIKSI

PERSIAPAN MENULIS
Sebelum melakukan penulisan seorang penulis harus mempersiapkan hal-hal yang akan diperlukan dalam proses penulisan. Menurut Ari (2007 : 21) dalam persiapan menulis ada beberapa hal yang harus kita perhatikan diantaranya
1. Ide Cerita
Kunci utama yang harus kita siapkan dalam penulisan prosa fiksi adalah ide cerita yang Brilliant. Ada banyak car dalam mencari ide dan ide bisa saja datang kapan saja. Cara yang dapat kita lakukan untuk mencari ide diantaranya:
a. Melawan kebiasaan yang membosankan
b. Tidak usah fokus mencari ide
c. Mendengar pembicaraan orang
d. Mulai menulis di buku harian atau menulis di blog
e. Tidak membohongi perasaan
f. Coba dengan hal yang baru
g. Membuat tema yang beda
h. Perankan orang lain dalam sehari
i. Tidak perlu malu dan lelah
j. Ambil hikmah dari setiap peristiwa
k. Membawa buku catatan setiap kita pergi
l. Jalan-jalan ketempat baru
m. Mendengar kata hati, dll
2. Niat
Niat untuk mulai menulis dalam hal ini harus kita perhatikan untuk memberi semangat pada diri kita sendiri.
3. Peralatan dan perlengkapan
Peralatan dan perlengkapan yang dapat kita siapkan dalam menulis prosa fiksi adalah
a. Kertas kosong
b. Pulpen
c. Komputer atau laptop
d. Tape recorder
4. Waktu dan tempat
Sebelum menulis kita harus mempersiapkan waktu dan tempat yag tepat.
5. Jenis cerita
Jenis cerita penting kita perhatikan sebelum menulis sebuah prosa fiksi. Misalkan kita akan menulis novel maka kita harus menentukan dahulu genre novel yang akan kita tulis.
6. Sasaran cerita
Dalam menulis prosa fiksi ada bainya kita memperhatikan sasaran pembaca. Misalkan dilihat berdasarkan umur, atau berdasarkan kepentingan.
7. Tema cerita
Tema cerita berkaitan erat dengan sasaran yang hendak kita tuju. Tema yang dapat kita pilih dalam menulis prosa fiksi misalnya percintaan, persahabatan, keluarga, perselingkuhan, asimilasi budaya, religi, kepahlawanan, petualangan, balas dendam, dan kriminal.
8. Premis Cerita
Premis cerita merupakan cerita inti yang menentukan arah cerita sekaligus menjelaskan tujuan cerita.
9. Alur cerita
Alur cerita merupakan jalan cerita. Jalan cerita penting sekali dalam menulis.
10. Seting cerita
Seting meliputi tempat, waktu dan suasana cerita. Dalam menulis prosa fiksi setting harus kita tentkan
11. Sudut pandang
Sudut pandang adalah cara bercerita atau cara bertutur.
12. Penentuan judul
Judul merupakan hal yang paling penting dalam menulis prosa fiksi.
13. Pengumpulan materi cerita
Dalam menulis fiksi kadang-kadang ada penggabungan antara fiksi dan non fiksi. Misalnya kita menguraikan fiksi namun tempatnya nyata/ nonfiksi karena ada dan bisa dilihat.
14. Hal-hal unik
Untuk memikat pembaca-kita perlu mempertimbangkan hal-hal yang unik.
15. Sinopsis cerita
Kalau kita sudah memiliki premis maka kita membuat sinopsis agar cerita lebih mantap dan terarah.
16. Pengembangan lebih rinci
Untuk membangun cerita yang rinci, sinopsis yang telah kita buat tadi, kita kembangkan secara lebih terperinci misalnya membuat bagian-bagian.
17. Tentukan deadline
Setelah kita merasa materi yang kita butuhkan telah cukup maka kita tentukan deadline atau batas waktu penulisan.


Memang, para penulis memiliki pengalaman yang berbeda satu sama lain, namun setidaknya pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pelajaran bagi penulis pemula. Dan walaupun setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam berkarya, berikut ini kiat dalam menuis novel menurut Nugraha (dalam http://kh4bh4yh4n.multiply.com)

a) Menggali ide
Kita sebagai pemula dalam menulis, mungkin seringkali kebingungan mencari ide. Padahal, ide itu bisa kita dapatkan dimanapun, kapanpun, dan tentang apapun. Yang penting jangan diam.

Pertama, cobalah melakukan sesuatu, karena adakalanya ide muncul ketika kita sedang melakukan suatu aktifitas dan saya percaya akan hal itu. Walaupun, tak jarang ada yang mengatakan jika penggalian ide sifatnya sangat personal dan seringkali berkaitan dengan pengalaman pribadi.
Yang pasti, ide itu tidak muncul dari langit. Dan hanya penulis yang produktif yang akan selalu memiliki banyak ide untuk dituangkan ke dalam tulisan. Karena baginya tak ada hari dan waktu tanpa ide yang dapat dibuat tulisan.

“Saya sendiri ketika menulis novel "Untukmu Ayu", idenya muncul takkala saya sedang menghabiskan waktu saya di sebuah perkebunan teh di Bandung. Kemudian sesampainya di rumah, saya langsung menuangkannya ke dalam tulisan”. (Nugraha, http://kh4bh4yh4n.multiply.com)

Kedua, perbanyaklah membaca. Apapun bentuk bacaannya. Bisa buku, majalah, Koran, tabloid, dan lain-lain. Karena dengan banyak membaca akan menambah pengetahuan kita. Yang penting bacaan itu bisa merangsang munculnya sebuah ide dan keinginan menulis.

“Hampir separuh kamar saya penuh dengan buku, mulai dari buku-buku politik, hukum, komunikasi, hingga novel dan kumpulan cerpen. Bagi saya, buku adalah harta yang sangat berarti. Bahkan, saya memiliki buku sastra terbitan tahun 1928 yang hingga kini masih terawat dengan baik. Semua itu demi menambah pengetahuan saya dan bisa menjadi referensi saya dalam menulis. Ingat! penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula”. (Nugraha, http://kh4bh4yh4n.multiply.com)


Terakhir, mulailah untuk mencoba mengamati sekitar kita. Karena bisa saja dengan mengamati lingkungan di sekitar kamu, sebuah ide bisa muncul. Siapa tahu di sekitar kita ada sesuatu yang menarik untuk dijadikan tulisan.


b) Menentukan tema
Setelah kamu mendapat ide, langkah selanjutnya adalah mencoba mengembangkan ide yang kamu dapat menjadi sebuah tema tulisan. Misalnya kita mendapatkan sebuah ide tentang seorang gadis dan kekasihnya, mungkin kita bisa mengembangkannya menjadi sebuah tema, seperti kegelisahan si gadis karena kekasih pujaannya tak kunjung datang. Atau jika kita mendapatkan ide tentang ibu dan anaknya, kamu bisa saja mengembangkannya menjadi sebuah tema, seperti kekecewaan ibu karena nasihatnya selalu tidak dituruti oleh anaknya. Yang pasti, menentukan tema sangat penting agar tulisan kita dapat lebih terarah dan tidak menyimpang dari ide awal.

c) Merumuskan masalah
Langkah selanjutnya adalah merumuskan masalah. Dalam tahap ini, kita harus menentukan permasalahan yang dihadapi oleh antar tokoh. Misalnya, ibu kecewa karena seringkali menasihati anaknya, selalu tidak dituruti dan dibantah. Misalnya, anaknya tidak pernah menuruti dan sering membantah nasihat ibunya karena pergaulannya yang salah dan nakal.

d) Tulislah sinopsis
Langkah ini menjadi penting bagi pemula dalam menulis. Berbeda dengan penulis yang sudah berpengalaman. Mereka seringkali melupakan sinopsis. Sinopsis sebenarnya merupakan rangkuman dari keseluruhan tulisan yang telah selesai dikerjakan. Tapi, untuk penulis pemula sinopsis dapat menjadi panduan ketika hendak menulis.


Menurut Didik (dalam http://mega-thea.blog.friendster.com) ada bebarapa tips yang dapat digunakan dalam penulisan prosa fiksi. Tips-tips tersebut meliputi :
1. Memilih Sudut Pandang
Sudut pandang atau point of view di dalam cerita fiksi pada prinsipnya adalah siapa yang menceritakan cerita tersebut. Sudut pandang itu seperti kita melihat sesuatu peristiwa melalui mata ’seseorang’. Kejadian yang sama di mata anak-anak dan orang dewasa tentu berbeda, sehingga sudut pandang sangat berpengaruh pada bagaimana cerita itu akan diceritakan. Bagaimana nuansa, gayanya, dan bahkan makna cerita itu bisa berbeda tergantung sudut pandang mana yang dipakai.
Ada dua sudut pandang yang biasa dipakai di dalam penulisan fiksi, antara lain:
a) First Person Point of View (Sudut Pandang Orang Pertama)
Di sini, narator berperan sebagai salah satu karakter. Karakter dipakai biasanya adalah karakter utama di cerita. Biasanya sudut pandang ini mudah dikenali, dengan ‘aku’ atau ’saya’ sebagai karakter utama.

b) Third Person Point of View (Sudut Pandang Orang Ketiga)
Sudut pandang orang ketiga dipakai bila kita menggunakan narator yang tidak ikut menjadi salah satu karakter fiksi tersebut. Namun, narator tersebut mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh karakter-karakter tersebut. Mungkin bisa kita analogikan sebagai reporter di cerita pembunuhan di atas.

Sudut pandang orang ketiga bisa dibedakan lagi menjadi Omniscient atau Limited. Kalau di Omniscient Point of View, orang ketiga tersebut mengetahui semuanya tentang seluruh karakter cerita, baik perasaannya atau pikirannya. Sedangkan yang Limited, orang ketiga itu hanya mengetahui tentang beberapa karakter saja.


2. Detil Cerita
Beberapa kelemahan yang sering ditunjukkan oleh para penulis pemula adalah sedikitnya detil yang digunakan untuk memperkuat cerita. Padahal walaupun sepele, detil berguna untuk menambah kekuatan karakter ataupun memperkaya setting.
Cerita kita akan lebih nyata kalau dibantu dengan detil. Manusia memiliki berbagai macam indera. Gunakan indera tersebut untuk membuat cerita kita nyata di mata pembaca, di telinga pembaca, di lidah pembaca, di hidung pembaca, atau di kulit pembaca.

3. Teknik Penulisan
Sebuah kisah yang sesungguhnya menarik, di mata pembaca bisa menjadi kurang menarik atau bahkan menjadi hambar, hanya karena teknik penulisan. Demikian juga cerita yang biasa-biasa saja bisa menjadi sangat menarik, juga karena teknik penulisan.

4. Pahlawan dengan Ratusan Muka
Salah satu buku paling berpengaruh di dunia penulisan, dan juga di dunia film adalah The Hero With A Thousand Faces karya Joseph Campbell yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1949. Salah satu pembuat film Holywood yang pertama kali mengakui pengaruh buku Joseph Campbell ini dalam filmnya adalah George Lucas. Ia mengatakan bahwa Star Wars yang pertama kali tayang di tahun 1970an dibuat berdasarkan ide yang ada di dalam buku The Hero With A Thousand Faces.
Joseph Campbell adalah seorang profesor Amerika yang meneliti bidang mitologi. Ia menemukan bahwa setiap mitologi di seluruh dunia, semua cerita kepahlawanan, mitos, legenda, memiliki dasar cerita yang sama. Cerita yang sama tersebut diceritakan kembali dengan berbagai variasi yang berbeda. Ia menemukan bahwa setiap cerita, secara sadar atau tidak, mengikuti pola yang sama, atau disebut juga “Hero Myth”.

5. Menulis dengan Diagram Balon
Pada saat menulis atau menemukan ide, seseorang biasanya membuat kerangka sebagai panduan untuk menulis. Yang paling umum digunakan adalah membuat kerangka dalam bentuk linear, baris demi baris, sehingga bentuknya mirip seperti daftar isi. Biasanya hal ini tidak masalah bila kita memang membuat tulisan yang linear, seperti non-fiksi. Masalahnya adalah tidak semua tulisan berbentuk linier. Masalah lain adalah ide biasanya tidak muncul secara linier. Proses kreatif suatu pikiran tidak muncul secara linear. Satu ide yang muncul biasanya akan diikuti ide lain yang muncul sporadis. Ide biasanya tersebar seperti kepingan puzzle yang harus disatukan. Yang perlu kita lakukan adalah mengolah ide atau informasi yang kita miliki sehingga kita memiliki sebuah alur cerita. Tulisan ini akan membahas bagaimana menulis fiksi dengan bantuan diagram balon.

Sebelum kita melanjutkan pembahasan mengenai diagram balon, ada baiknya kita mengetahui mengenai konsep Mind Mapping. Konsep Mind Mapping asal mulanya diperkenalkan oleh Tony Buzan tahun 1970-an. Teknik ini dikenal juga dengan nama Radiant Thinking. Sebuah mind map memiliki sebuah ide atau kata sentral, dan ada 5 sampai 10 ide lain yang keluar dari ide sentral tersebut. Mind Mapping sangat efektif bila digunakan untuk memunculkan ide terpendam yang kita miliki dan membuat asosiasi di antara ide tersebut. Mind Mapping juga berguna untuk mengorganisasikan informasi yang dimiliki. Bentuk diagramnya yang seperti diagram pohon dan percabangannya memudahkan untuk mereferensikan satu informasi kepada informasi yang lain.
6. Drama yang Kuat
Penerbit Escaeva banyak sekali mendapatkan kiriman naskah fiksi bergenre fantasi. Gaya penceritaan, tokoh sampai settingnya pun, walau berbeda nama, namun bisa dilihat kalau terinspirasi oleh The Lord of The Rings, The Chronicles of Narnia, Harry Potter, Eragon, sampai terinspirasi oleh game semacam Final Fantasy. Boleh-boleh saja bila kita terilhami karya-karya yang sudah terkenal.
Bila dibaca, naskah yang masuk tersebut memiliki kelebihan, yaitu detail karakter dan setting-nya yang cukup tajam, mulai dari penggunaan nama yang terdengar asing di telinga, nama ras, ciri-ciri fisik, nama senjata, nama kota dll menunjukkan kalau penulisnya cukup banyak membaca karya bergenre sejenis dan melakukan riset. Namun ada satu hal yang tidak dimiliki oleh naskah-naskah yang masuk tersebut, sehingga menyebabkan naskah tersebut tidak bisa diterbitkan, yaitu “the script is not selling the drama“.
“Selling The Drama”, sama seperti judul lagu yang dipopulerkan kelompok musik Live, adalah elemen penting dalam penulisan fiksi. Bayangkan The Lords of The Rings tanpa konflik batin Frodo, persahabatan antara Frodo-Sam atau kepribadian ganda Gollum, karya besar itu dijamin hambar. Naskah fiksi fantasi yang hanya menggambarkan pahlawan tanpa cacat, berkelana dari satu kota ke kota lain untuk menegakkan keadilan, melawan monster ini dan itu, yang wajahnya begini dan begitu hanya akan menarik di awal kita membacanya. Setelah itu, kebosanan yang akan menjadi milik naskah seperti ini.
Yang akan menarik pembaca tidak hanya karakter yang indah, atau detail, setting yang wah. Semua itu tidak ada artinya bila tidak ada drama yang kuat. Selama kita bisa membuat drama yang kuat, kita bisa memberi baju apapun untuknya. Ambil contoh sebuah cerita sederhana seperti perjalanan hidup seseorang yang sukses, kemudian terhempas dan menderita, kemudian bersusah-payah membersihkan namanya dan menggapai kembali kesuksesan setapak demi setapak. Di dalam baju Romawi, cerita ini menjadi Gladiator. Sedangkan di dalam baju binatang menjadi The Lion King. Atau di masa sekarang, cerita ini menjelma menjadi The Fugitive atau Enemy of The State. Di dalam setting yang lebih maju lagi, cerita seperti ini menjadi sci-fi seperti The Minority Report.
Singkatnya, “Selling The Drama” tidak hanya harus dimiliki oleh naskah fiksi fantasi saja, namun semua naskah fiksi harus memilikinya.

7. Karakter Fiksi yang Nyata
Salah satu kunci dalam menulis fiksi yang baik adalah dengan menciptakan karakter yang menarik. Tidak cukup hanya dengan menarik, tetapi juga harus “believeable”.
Ketika kita ingin membuat novel, pertama kali yang perlu kita pertimbangkan adalah karakter. Biasanya orang berkutat untuk mencari plot cerita. Kali ini tinggalkan plot cerita itu sebentar. Sekarang pikirkan karakter kita. Karakter kita yang akan menentukan ke arah mana cerita itu akan berjalan. Jika kita memaksakan suatu karakter masuk ke dalam suatu plot cerita, justru kita akan merusak keseluruhan karakter itu sendiri. Tetapi jika kita membiarkan karakter “berlakon” dalam “dunia cerita”, karakter itulah yang akan menuliskan ceritanya untuk kita. Bayangkan kita memiliki karakter hidup yang bisa menentukan pilihannya sendiri, bukannya kita memiliki boneka mati yang bisa kita suruh melakukan yang kita inginkan. Berikut ini kita ditunjukkan beberapa tips bagaimana membuat karakter yang “believeable” tersebut.
a) Karakter kita harus memiliki sifat dan kepribadian tertentu
Setiap karakter memiliki sifat dan kepribadian masing-masing, seperti kita juga memiliki kecenderungan kepribadian tertentu. Tidak ada seorangpun di dunia yang memiliki semua macam sifat, kecuali orang dengan “multiple personalities”. Pilihlah kepribadian karakter kita. Kita juga bisa memilih satu, sampai beberapa macam kepribadian. Tentukan mana yang dominan. Seringkali kepribadian tersebut saling bertabrakan. Tidak masalah. Itu justru akan menambah hidupnya karakter.

b) Konsisten dengan kepribadian karakter
Kita harus konsisten dengan kepribadian karakter yang kita pilih. Misalnya seorang yang pemalu cenderung untuk bersandar pada kelompok tertentu, atau mencari area ternyamannya sendiri. Kita juga tidak mungkin membuat seseorang yang serius tiba-tiba membanyol. Tanpa alasan yang kuat, kita tidak bisa mengubah kepribadian seseorang menjadi berubah 180 derajat. kita juga perlu membayangkan bagaimana seseorang dengan kepribadian tertentu bertindak. Jika kita sudah memiliki ending atau cerita tertentu, tetapi kita pikir karakter kita tidak akan melakukan hal tersebut, kita harus membuang ending tersebut. kita harus membuat cerita Anda “make sense” sesuai dengan karakter kita.
c) Tiada gading yang tak retak
Ada banyak penulis yang menggambarkan karakter yang ia buat dengan sangat sempurna. Karakter yang seperti ini akan menjadi karakter yang sangat membosankan. There’s always a dark side behind every man. Karakter yang manusiawi adalah karakter yang memiliki kelebihan dan juga kelemahan. Cerita Anda akan lebih hidup dengan memiliki karakter yang manusiawi.


d) Buatlah pembaca mencintai karakter kita
Apabila kita memiliki karakter utama, buatlah pembaca mencintai karakter kita. Bahkan seorang karakter antagonis juga bisa menjadi karakter yang dicintai oleh pembaca. Formulanya adalah kita harus menjelaskan siapa mereka, bagaimana mereka, apa yang mereka lakukan, alasan kuat mengapa yang melakukan hal tersebut, dan tambahkan rasa manusiawi pada mereka. Pembaca mestinya juga akan berpikir mereka juga akan berbuat yang sama pada situasi yang sama. Itu akan menumbuhkan empati pada karakter yang kita buat.

8. Tahapan dalam Menulis
Apabila saat ini kita ingin memulai pekerjaan sebagai penulis, kita mungkin bertanya-tanya bagaimana cara menulis dengan baik, efisien dan efektif. Ada banyak cara yang dapat digunakan seorang untuk bisa menulis. Setiap orang berbeda-beda. Namun pada prinsipnya dapat dibagi dalam 5 tahap kegiatan.
1. Tahap pertama adalah menentukan tema atau topik atau ide utama yang akan Anda tulis.
Kita sebaiknya menulis dalam bidang yang kita kuasai. Alternatif lain adalah kita dapat menulis bidang yang kita kuasai. Jika sedang menulis fiksi kita dapat menulis genre yang kita sukai. Keuntungan apabila kita menulis hal yang kita sukai, kita akan lebih enjoy dan lebih serius dalam menulis naskah tersebut. Sebenarnya kita tidak dilarang untuk menulis di luar bidang yang kita kuasai, tetapi kita akan jauh lebih mudah menulis bidang yang Anda kuasai, dan pada akhirnya buku kita akan jauh lebih cepat terbitnya.
2. Tahap kedua adalah melakukan riset.
Lakukanlah semua hal yang diperlukan untuk mendapatkan data yang kita inginkan, dengan membaca, mencatat, observasi, mengkliping. Kumpulkan semua data dalam satu tempat. Sebaiknya kita menggunakan jurnal. Organisasikan dengan rapi, agar dapat mudah dicari apabila diperlukan. kita harus memasikan bahwa data yang kita miliki valid dan akurat, sehingga apa yang kita tulis dapat dipertanggung jawabkan. Apabila kita menulis novel, dengan setting dan karakter yang sudah kita riset, Anda memiliki karakter yang seakan-akan nyata.

3. Tahap ketiga adalah membuat kerangka atau outline dengan memilih topik atau ide mana yang akan kita gunakan.
Beberapa penulis fiksi melewatkan tahap ini, atau cukup dengan membuat kerangka di luar kepala, mereka langsung menulis apa yang ada di kepalanya. Namun tidak semua orang bisa menulis dengan cara ini. Sebaiknya kita tetap membuat kerangka atau outline ini supaya tulisan atau cerita kita memiliki konsistensi dan alur yang baik. Kita akan dengan mudah melihat alur tulisan dengan hanya membaca kerangka.

4. Tahap keempat, tentu saja Anda harus menulis.
Carilah waktu untuk menulis. Kadang kita akan banyak mengalami hambatan untuk menulis. Kita harus mengatasi hambatan ini, sehingga tulisan kita selesai dalam waktu yang sudah ditentukan.

5. Tahap terakhir adalah membaca kembali tulisan kita.
Simpan terlebih dahulu beberapa waktu dan baca kembali. Kita akan terkejut sewaktu membaca sediri tulisan kita. Revisi kembali apabila terdapat kesalahan, termasuk kesalahan ketik, gramatika, tata bahasa. Jangan segan untuk menulis ulang dengan ide baru yang lebih segar.




2.2 STRUKTUR CERITA
Didalam pembuatan sebuah karya fiksi kita membutuhkan struktur cerita yang akan membedakan bagian-bagian cerita. Menurut Ari (2007 : 49) secara umum struktur cerita terbagi atas tiga bagian yaitu pembukaan, inti cerita dan penutup.
1. Pembukaan
Kita tidak perlu bingung memilih pembukaan cerita fiksi kita. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan tapi sebaiknya kita memilih apa yang kita sukai dan juga berkenan di hati pembaca.

Ada beberapa hal yang perlu kita ingat dalam membuat pembukaan yaitu:
a. Menarik pembaca untuk membaca bagian berikutnya
b. Tidak bertele-tele
c. Mengenalkan tokoh utama dengan masalahnya
d. Dialog yang mencirikan tokoh utama
e. Deskripsi yang tidak monoton.

2. Inti cerita
Kalau kita sudah menemukan pembukaan yang pas dan sesuai dengan keinginan kita, maka kita harus meneruskan cerita ke bagian selanjutnya. Kita harus pelan-pelan membuat pembaca iku dalam cerita yag kita buat dengan cara menjaga dialog dan bahasa. Selain itu kita harus menjaga agar pembaca seolah-olah terlibat dalam cerita yang kita buat dengan suasana yang kita bangun sehingga mereka mau meneruskan cerita yang kita sajikan.

3. Penutup atau ending
Kalau kita sudah membuat pembuka kemudian inti cerita langkah selanjutnya adalah membaut penutup. Usahakan kita memiliki surprise di akhir cerita.

NOVEL KONTEMPORER

PENGERTIAN NOVEL

Karya fiksi dapat dibedakan dalam berbagai bentuk yaitu roman, novel, novella dan cerpen Baribin (1985 : 29). Dalam arti luas, novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang lebih luas. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan alur yang kompleks, karakter yang banyak, tema atau permasalahan yang luas ruang lingkupnya, suasana cerita yang beragam, dan latar yang beragam pula.

Menurut Suharianto (1982 : 40), novel dapat mengungkap seluruh episode perjalanan hidup tokoh ceritanya, bahkan dapat pula menyinggung masalah-masalah yang sesungguhnya tidak begitu integral dengan masalah pokok cerita itu sendiri. Kehadirannya hanyalah sebagai pelengkap saja dan kehadirannya tidak akan mengganggu atau mempengaruhi kepaduan ceritannya. Cerita mengenai masalah-masalah sampingan tersebut biasa dikenal dengan istilah digresi.

Dalam sastra Indonesia, istilah novel seperti yang terdapat dalam pengertian yang lebih umum selama ini adalah istilah roman, kemudian istilah tersebut dipergunakan dalam yang sama. Tarigan (1985: 164) mengutip beberapa devinisi novel sebagai berikut :
“Novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu,yang melukiskan para tokoh,gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut”
“Novel adalah suatu cerita dengan suatu alur,cukuppanjang mengisi satu buku atau lebih, yang menggarap kehidupan pria dan wanita yang bersifat imajinatif”
“sebuah Roman atau Novel ialah terutama sekali sebuah eksplorasi atau suatu kronikpengidupan ; merenungkan dan melukiskan dalam bentuk yang tertentu, pengaruh, ikatan, hasil, kehancuran, atau tercapainya gerak-gerik manusia”.

PENGERTIAN NOVEL KONTEMPORER
Dalam Kamus Istilah Sastra, Abdul Rozak Zaidin, Anita K. Rustapa, dan Hani’ah menuliskan, novel adalah jenis prosa yang mengandung unsure tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang, dan mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan (1994:136).
• Pengertian novel kontemporer secara sederhana adalah :
- Novel yang hidup pada masa kini atau novel yang hidup pada waktu yang sama.
- Novel yang berusaha bergerak mendahului keadaan zamannya.
• Pengertian novel kontemporer secara luas adalah :
- Novel yang menyimpang dari semua sistem penulisan fiksi yang ada selama ini atau yang bersifat konvensional.
- Novel yang menggarap masalah fiksi dan batin dengan pola yang aneh tetapi suasana dan imaji yang sangat menakjubkan.
Berdasarkan dua pengertian novel kontemporer di atas, maka novel Indonesia kontemporer adalah novel Indonesia yang bentuknya menyimpang dari sistem penulisan fiksi di Indonesia selama ini dan yang menggarap masalah fiksi dan batin manusia Indonesia dengan pola yang aneh tetapi dengan suasana dan imaji yang sangat menakjubkan.

CIRI-CIRI NOVEL KONTEMPORER
Untuk novel kontemporer yang dapat diwakili oleh karya Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, dan Budi Darma, memperlihatkan adanya kesamaan tema yang mengangkat masalah keterasingan manusia modern dan kehidupan yang absurd. Identitas tokoh menjadi tidak penting yang ditandai dengan penamaan Tokoh Kita (dalam novel-novel Iwan Simatupang) atau cukup disebutkan lelaki setengah baya, penjaga kuburan, buruh pabrik, walikota, pensiunan dan beberapa nama jabatan atau status sosial yang bisa berlaku untuk siapa saja. Latar tempat dan latar waktu juga tidak mengacu pada tempat dan waktu tertentu, sehingga dapat berlaku di mana dan kapan saja. Alur yang dalam novel konvensional selalu harus didasari pada rangkaian peristiwa yang mempunyai pertalian hubungan sebab-akibat (kausalitas), dalam novel-novel tahun 1970-an itu tidak lagi berlaku. Segala peristiwa bisa tumpang-tindih tak ada hubungan sebab-akibatnya (kausalitas). Peristiwa yang dihasilkan lakuan dan pikiran disajikan seketika secara serempak, seolah-olah peristiwa itu datang saling menyergap. Akibatnya, peristiwa itu seperti tidak jelas lagi juntrungannya. Model novel-novel yang seperti inilah yang kemudian disebut sebagai novel arus kesadaran (stream of conciousness), sebuah aliran dalam sastra (terutama prosa) yang menekankan cerita melalui pikiran, perasaan, dan alam bawah sadar tokoh-tokohnya.
Menurut Purba (2001) novel Indonesia kontemporer berciri sebagai berikut :
- Antitokoh
- Antialur
- Bersuasana misteri atau gaib
- Cenderung mengungkapkan transcendental, sufistik.
- Cenderung kembali ke tradisi lama atau warna local.

Menurut Kenkubela (dalam http://kenkubela.wordpress.com) ciri khas yang menonjol dari karya-karya novel kontemporer, yang merupakan unsur-unsur intrinsik yaitu:
1) Tema, mengangkat masalah keterubingan manusia dan kehidupan yang absurd (tidak masuk akal)
2) Identitas tokoh menjadi tidak penting
3) Latar tempat dan latar waktu, dapat berlaku dimana saja
4) Alur, tidak lagi menekankan hubungan sebab akibat (kausalitas). Peristiwa yang dihasilkan oleh lakuan dan pikiran, disajikan secara tumpang tindih. Akibatnya peristiwa itu seolah-olah tidak jelas lagi.


MUNCULNYA NOVEL KONTEMPORER
Novel kontemporer muncul dilatarbelakangi oleh adanya suatu pergeseran nilai kehidupan secara menyeluruh. Persoalan kehidupan merupakan semangat munculnya sastra atau novel kontemporer. Demikian juga terjadi perubahan yang besar dan mendasar yang meliputi penulisan dan pencarian bentuk-bentuk pengucapan baru.
Munculnya periode 70-an karena adanya pergeseran sikap berfikir dan bertindak dalam menghasilkan wawasan estetik dalam menghasilkan karya sastra bercorak baru baik di bidang puisi, prosa maupun drama. Pergeseran ini mulai kelihatan setelah gagalnya kudeta G 30 S/PKI. Abdul Hadi W.M. dan damai Toda menamai sastra Indonesia modern pada tahun 1970-an dengan sastra periode 70-an. Korrie Layuan Rampan cenderung menamai Sastra Indonesia sesudah angkatan ’45 dengan nama angkatan ’80. Perbedaan esensial antara kedua versi tersebut hanyalah pemberian nama saja, karena keduanya memiliki persamaan, yaitu:
1. keduanya tidak mengakui adanya angkatan ’66 yang dicetuskan oleh HB. Jassin
2. keduanya meyakini adanya pergeseran wawasan estetik sesudah angkatan ‘45
3. keduanya memiliki persamaan pandangan tentang tokoh-tokoh pembaruan Sastra Indonesia Modern sesudah angkatan ‘45
Dalam periode 70-an pengarang berusaha melakukan eksperimen untuk mencoba batas-batas beberapa kemungkinan bentuk, baik prosa, puisi, maupun drama semakin tidak jelas. Misalnya, prosa dalam bentuk cerpen, pengarang sudah berani membuat cerpen dengan panjang 1-2 kalimat saja sehingga terlihat seperti bentuk sajak. Dalam bidang drama mereka mulia menulis dan mempertunjukkan drama yang absurd atau tidak masuk akal. Sedangkan dalam bidang puisi mulai ada puisi kontemporer atau puisi selindro.
Periode 70-an telah memperlihatkan pembaharuan dalam berbagai bidang, antara lain; wawasan estetik, pandangan, sikap hidup, dan orientasi budaya. Para sastrawan tidak mengabaikan sesuatu yang bersifat tradisional bahkan berusahan untuk menjadikannya sebagai titik tolak dalam menghsilkan karya sastra modern.
Konsepsi improvisasi dalam karya sastra dipahami oleh Putu Wijaya. Ia mengatakan bahwa sebuah novel hanyalah cerita pendek yang disambung, sehingga yang penting muncul di dalam penulisan suatu karya sastra adalah faktor ketiba-tibaan. Sebuah novel ditulis didalam dadakan-dadakan karena pada saat menulis beragai ide yang datang dimasukkan ke dalam ide pokok. Unsur tiba-tiba seperti ini yang disebut dengan uncur improvisasi.

TOKOH-TOKOH NOVEL KONTEMPORER BESERTA KARYANYA
1) Putu Wijaya
• Contoh karya-karyanya yaitu:
• Telegram
• Pabrik
• Stasiun
• Keok
• Sobat
• Tak Cukup Sedih
• Ratu
• Edan
• Bila malam bertambah malam
2) Iwan Simatupang
• Merahnya Merah
• Kering
• Ziarah
• Kooong
3) Linus Suryadi
• Pengakuan Pariyem
4) Korrie Layun Rampan
• Upacara
5) Remy Sylado
• Gali Lobang Gila Lobang (roman)
• Kita Hidup Hanya Sekali (roman)
• Belajar Menghargai Hak asasi Kawan (sajak)
6) Kuntowijoyo
• Pasar (Novel, 1972)
7) Budi Darma
• Olenka (Novel, 1983).



Sinopsis Bila Malam Bertambah Malam

BMBM bercerita mengenai kehidupan di sebuah puri milik Gusti Biang, seorang keturunan bangsawan Bali. Dalam kesehariannya Gusti Biang selalu ditemani oleh dua abdi setia, Wayan dan Nyoman. Meski tabiat Gusti Biang sama sekali tak mencerminkan kebangsawanan, kedua sudra ini tetap dengan rela hati melayani sang majikan.
Masalah bermula ketika ketika ketidakcocokan di antara mereka memuncak, hingga Nyoman diusir oleh Gusti Biang. Karena tanpa diketahui Gusti Biang, Ngurah; anak semata wayangnya yang sedang belajar di kota; ternyata saling merajut cinta bersama Nyoman. Ketidaksetujuan Gusti Biang terhadap hubungan keduanya (yang didasarkan pada sistem kasta), akhirnya membuka rahasia besar yang selama ini ditutupi-tutupi.
Secara garis besar, tema sentral BMBM adalah tentang sebuah cara memanusiakan manusia. Dimana Gusti Biang yang notabene terlahir dari kasta ksatria, mau tidak mau harus menuruti nurani dan logika dengan meninggalkan kehormatannya, atas nama cinta.
Novel ini bukan semata ingin menentang apa yang disebut sebagai budaya. Melainkan lebih kepada usaha seorang Putu Wijaya, untuk menyuarakan bahwa siapapun orangnya, dan dari rahim siapa dia tercipta, tetaplah seorang Manusia. Novel ini bisa dikatakan adalah cara Putu untuk mengkritik (baca: meruntuhkan) sistem kasta yang berlaku di Bali. Dimana sistem semacam ini, telah menempatkan manusia pada hirarki yang semata didasarkan pada faktor keberuntungan. Dalam artian, ketika seseorang terlahir dari rahim brahmana atau ksatria, otomatis dia akan lebih terhormat dibanding mereka yang lahir dari seorang waisya atau sudra.
Pemberontakan budaya (yang dalam konteks Bali sebenarnya sangat radikal) ini, disampaikan Putu dengan cara yang cukup sederhana. Melalui bidang yang digelutinya (yaitu teater dan kata-kata), Putu berbicara dengan cara yang sungguh amat cerdas. Alih-alih melalui aksi demostrasi yang penuh makian, hujatan, dan aksi kekerasan, Putu justru memilih cara santun untuk menunjukkan perlawanannya.

Hal ini sekaligus meruntuhkan teori yang mengatakan bahwa untuk menyuarakan aspirasi dan mengubah suatu kondisi, haruslah melalui partai politik. Dimana tiap-tiap individu mempunyai dunianya masing-masing, serta mempunyai cara berjuang sendiri-sendiri. Begitu juga halnya dengan cara bicara dan perlawanan seorang seniman.

Merahnya Merah adalah novel karya Iwan Simatupang yang pertama terbit. Novel ini dianggap sebagai novel pertama yang membawa angin baru bagi kehidupan pernovelan Indonesia. Cetakan pertama novel ini diluncurkan tahun 1968 oleh Penerbit Djambatan.
Tahun 1986 terbit cetakan kedua dan tahun 1992 terbit cetakan ketiga. Ketiga cetakan itu diterbitkan oleh Penerbit Djambatan, Jakarta dengan oplah 3.000 eksemplar. Novel ini berbicara tentang cinta segitiga di kalangan masyarakat gelandangan.

Masalah yang ditonjolkan dalam novel tersebut adalah adanya pengakuan bahwa seorang gelandangan bukan sekadar bertampang lusuh yang berpakaian compang-camping. Di antara mereka terdapat juga calon rakib, calon menteri, mantan komandan kompi pasukan berani mati, dan mantan algojo.

Mereka adalah manusia biasa yang memiliki cita-cita, hati, dan jantung. Novel ini dirasakan sangat bertentangan dengan realitas. Umar Junus menganggap bahwa novel Merahnya Merah merupakan novel pembaharu intelektual Indonesia

Detail buku “Merahnya Merah”
Pengarang : Iwan Simatupang
Penerbit : CV. Haji Masagung

Tahun : 1988
Tebal halaman: 124 hal
Tebel kertas : 0.15

SINOPSIS BUKU
________________________________________
Merahnya Merah
Sebelum revolusi, dia calon rahib.
sembarangan Selama revolusi, dia komanadan kompi.
Diakhir revolusi, dia algojo berdarah dingin.
Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa!
Setelah dinyatakan sehat, Tokoh Kita jadi gelandangan yang bukan, lain dari yang lain, yang juga berhasil merasakan bahagia, walau, "Tragikku adalah tragik dari sebelum tragik, tragik rangkap dua!" ucap Tokoh Kita. Di dunianya itu, dia ketemu Maria, calon jururawat yang gagal, bekas pembantu rumah-tangga pada pastoran uang diperkosa dan menjadi gelandangan. Lalu muncul tokoh lain di tengah-tengah percintaan Tokoh Kita& Maria, yaitu Fifi, 14 tahun, korban pemerkosaan oleh para gerombolan. Kemudian tumbuh cinta segitiga yang aneh dan "revolusioner"!
Tetapi kemana ketiga-tiganya, berturut-turut hilang, tidak kemabli? Sungguh edan; samapi sibuk semua: Sang Centeng, sang Bekas Bang Becak, para gelandangan seluruh kota, dokter tentara bekas ajudan Tokoh Kita, para tentara dan polisi, sampai Pangdam dan Pandak! Hilang, tak kemabli, apa sesungguhnya yang terjadi?



SIMPULAN

Novel kontemporer muncul dilatarbelakangi oleh adanya suatu pergeseran nilai kehidupan secara menyeluruh. Persoalan kehidupan merupakan semangat munculnya sastra atau novel kontemporer. Demikian juga terjadi perubahan yang besar dan mendasar yang meliputi penulisan dan pencarian bentuk-bentuk pengucapan baru.
Novel Indonesia kontemporer adalah novel Indonesia yang bentuknya menyimpang dari sistem penulisan fiksi di Indonesia selama ini dan yang menggarap masalah fiksi dan batin manusia Indonesia dengan pola yang aneh tetapi dengan suasana dan imaji yang sangat menakjubkan.
Ciri novel kontemporer
• Antitokoh
• Antialur
• Bersuasana misteri atau gaib
• Cenderung mengungkapkan transcendental, sufistik.
• Cenderung kembali ke tradisi lama atau warna lokal.


DAFTAR PUSTAKA

http://goesprih.blogspot.com/2008/05/periodisasi-sastra-indonesia.html
http://kenkubela.wordpress.com/
http://mahayana-mahadewa.com/2010/09/11/angkatan-70-an-kembali-ke-tradisi/
Kayam, Umar. 2002. Jalan Menikung: (Para Priyayi 2). Pustaka Utama Grafiti. Jakarta
Purba, Antilan. 2001. Sastra Indonesia Kontemporer. USU Press. Medan.
http://wikimediafoundation.org

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons